Minggu, 28 April 2019

Bilik Abatasa




Lantunan Huruf Hijaiyah terdengar sayup – sayup setiap malamnya. Suara yang biasa kudengar waktu kecil dulu berbeda dengan Hari ini. Semakin bertambah zaman suara itu semakin redup, Maklum minat mengaji diKampung semakin merosot, Efek Televisi yang sekarang sudah ada disetiap rumah warga, Dan mungkin faktor Remaja yang lulusan smp dan Sma langsung kerja dikota – kota.

Kulihat Empat Anak usia sekolah Dasar yang duduk mengantri dihadapan ibuku, ya... mereka mengantri untuk mengaji pada ibu. Lalu kulihat kembali diruang tengah rumahku terdapat tiga Anak laki – laki yang sedang Bercanda satu sama lainnya, Dan terakhir kulihat diteras rumahku sudah ada seorang anak perempuan seusia kelas 2 Sd menungguku untuk Mengaji.

A Ba Ta tsa Ja Ha Kho....
Suaranya terdengar begitu lantang dihadapanku, Ia ternyata adik dari teman sekelasku saat SD dulu. Kulihat raut wajahnya, Tidak ada rasa canggung padaku walaupun jarang sekali aku mau  mengajar ngaji saat liburan pesantren.

Aku dan Anak kecil itu hanya berdua duduk diteras rumah, dibangku bambu panjang yang lumayan bisa diduduki enam orang manusia. Teringat dibenaku saat kecil dulu saat rumahku masih panggung dan terbuat dari kayu. Saat itu aku belum masuk sekolah Dasar, Dimana Dikampungku hanya rumahkulah yang terdapat Televisi. itupun Masih Menggunakan aki dan Pemancar yang terbuat dari Bambu panjang. Setiap malamnya, hampir semua masyarat kampung menonton Tv dirumahku setelah mengaji. Dan pada Jam 12 atau jam 1 malam ada sebagian warga baru selesai menonton,  itupun tidak ada yang pamit pada ibu abahku walaupun Orang tuaku sudah terlelap tidur, dan Pada pagi harinya orang tuaku biasa mendapatkan Rumah yang terbuka lebar. Inilah Alasan TV dirumahku ditutup saat aku menginjak kelas 1 Sd Dan kakaku Kls 1 Mts dipesantren, dan diadakan lagi saat aku Lulus UN Aliyah.

Tidak ada Televisi Dikampungku menyebabkan Masyarakat setempat  bergantian kepasar kecamatan untuk mengganti aki Setiap minggunya, dan warga yang bertugaspun rela berkorban kekota kecamatan walaupun harus menghadapi jalan rusak yang dalamnya hampir selutut.

Tv Memang hiburan satu – satunya yang ada dikampung. selain itu,  biasanya diadakan sebulan sekali ataupun setiap ada yang khitanan maupun Pernikahan yang menyediakan layar Tancap sebagai hiburannya. Hmmmm..... kampung memang indah Namun tak seindah pencurian barang – barang berharga dan rupiah yang menimpa Rumah panggungku.

Setiap malam kakaku yang kedua Biasa membawa teman temannya untuk menginap dirumah. Malam itu mereka mendapatkan hal yang aneh dari biasanya, karena Mereka menemukan Dua sosok manusia yang menggunakan Tutup wajah (semacam perampok yang biasa ada di Film2), Satu dari teman kakaku berpura – pura batuk dan berdahak, ada juga yang berpura – pura ketawa dan cekikikan dan ada juga yang berpura – pura Mengingau.

“karena kita takut mereka nyerang” Ungkap salah dari dari teman kakaku pada pagi harinya saat mereka cerita pada orang tuaku. Tidak hanya itu, Rumahku Pernah dicuri dengan cara dihancurkan sebagian kayunya agar pencuri bisa masuk kedalam rumah, dan pada pagi harinya terdapat serpihan barang – barang warung  yang ada dibelakang rumah.

Masa lalu memang susah untuk dilupakan dan mudah untuk diingat kembali. Kulihat Tembok Rumah yang kokoh berdiri menutupi semua ruangan.

“Dulu rumahku kayu dan Belum ada listrik Seperti sekarang” Gumamku dalam hati. Kuingat kembali Tujuh belas tahun yang lalu, dimana disetiap malamnya rumahku selalu ramai oleh Anak anak, Abg, Remaja, maupun dewasa. Ada Anak – anak yang bermain tutup kaleng didalam rumah, Bermain serpihan genting yang telah dibentuk sebagus mungkin, dan ada juga yang bermain lompat tali . Dan itu semua membuat orang orang yang ada diruangan ngaji terkena semprot ibuku. Karena Telah biasa ribut, Gaduh, Bahkan berkelahi satu sama lainnya, menyebabkan Rumahku telah terbiasa terbakar “Damar” yang kadang tidak sengaja tertendang  oleh anak anak yang mengaji dirumah.

“Kalau Juman sembuh, nanti ibu sawer” Nazar ibuku beberapa tahun yang lalu. Kejadian itu tidak terlalu kuketahui, Karena aku saat itu masih kecil, Namun aku tau karena kebakaran tersebut mengorbankan salah satu anak yang sedang bermain diteras rumah. Saat itu Damar tertendang dan minyak yang ada didalamnya tumpah , Sebelum api melahap Kayu abahku datang dan segera mengambil Damar yang penuh oleh api lalu melemparkannya keteras rumah.

“Abah pikir tidak ada orang diteras rumah kita” kata abah saat berada dirumah sakit esok paginya. Ya namanya juman, Ia Anak yatim Yang telah Menggoreskan sejarah yang tidak pernah kulupakan dirumah panggungku. Api yang Abahku lemparkan tersebut mengenai tubuhnya, Abahku sadar saat juman itu lari kesana kemari membawa api, Dan itu semua Menyebabkan ada luka bakar ditubuhnya. Setiap Lebaran idul Fitri Kadang juman datang kerumahku Hanya untuk Bersilaturahmi, ia hanya tertawa ketika ibuku mengingatkannya kembali tentang dirinya dan kebakaran dari Damar saat Menunggu mengaji.

Hmmm.....
Sungguh berwarna sekali masa laluku. Kulihat Adik Dari temanku itu dengan sabarnya ia mengulang Huruf demi huruf Hijaiyah Yang kuperintahkan agar Mudah Lidahnya Mellantunkan Al – Quran.

“Sabar banget nih anak ini” kataku dalam hati. Dulu aku seusia seperti dia tidak bisa sabar saat mengaji. Pernah suatu ketika saat aku mengaji pada ibuku ada orang yang membeli kopi diwarung. Ibu izin sebentar untuk melayani pembeli tersebut, Namun ternyata sebentarnya ibu tidak seperti sebentar yang kubayangkan, Akupun kesal dan entah dari pikiran mana kulemparkan Al – quran ke arah ibuku dan akupun menangis dengan sangat keras.

Itu masa laluku yang masih kuingat sampai sekarang. Oya satu lagi, Ini salah satu sejarah unik yang pernah ada saat aku kecil dulu, Suatu siang hari ada seorang laki laki bertamu ke kampungku, Ia sangat mudah bergaul dengan Remaja dan Abg dikampung, tapi ada satu kejanggalan dari laki laki tersebut, Entah benar – benar gila atau hanya pura – pura gila.

 Siang berganti Sore, Sore berganti malam, Laki laki tersebut tetap ada dikampungku. Pada saat waktu maghrib, ia mengikuti Remaja laki laki Ke masjid, saat Remaja laki laki pulang dari masjid dan hendak kerumahku, iapun mengikutinya, Ditengah jalan, Anak anak yang hendak kerumahku Berlarian karena menghindari laki laki itu, Iapun ikut berlari.

“Tutup pintunya”
“Tahan pintunya Tahan”
Semua Orang yang berada dirumahku menahan pintu dari dalam agar laki laki Aneh itu tidak masuk kedalam rumah. Laki laki, perempuan, Dewasa, Remaja, Abg, Anak anak, Semuanya bekerja sama satu sama lainnya. Namun, Karena kuatnya Laki laki Itu pintu yang ditahan oleh semua orang terbuka dengan sangat mudah. Sontak semuanya berlarian kesana kemari untuk menghindari laki laki aneh tersebut. Didalam rumah, Ibuku yang hendak solat Sunah Segera melemparkan Tepung ke arah laki laki aneh itu. Saat itu aku sedang membawa dua buat jambu batu yang aku dapatkan dari tetangga, Jambu yang kupegang menggelinding kearah tumpukan karung beras yang ada didapur. Aneh memang, saat orang lain sibuk untuk menghindari laki laki aneh, sedangkan aku sibuk dengan jambu yang lepas dari tanganku. Namannya juga masa lalu, Masa anak anak yang tidak mudah kulupakan dan kuusir dari pikiranku.

Malam semakin larut, Anak kecil yang Sedang mengaji padaku akhirnya selesai. Kulirik ia yang Turun dari kursi bambu dengan cepat. Tiba tiba ia menendang ember kecil yang ada diteras rumah.

“Hati – Hati Dek” kataku padanya. Ia hanya tersenyum malu padaku. Lalu kulihat ember kecil itu. “hmm... pahit” getirku dalam hati. Ember yang biasa ada untuk menampungi air hujan Kulihat Tidak bisa dipakai dengan baik lagi, karena robekan yang lebar pada ember tersebut menjadi penyebabnya.

“seumur – umur baru pertama kali ibu ngajar ngaji anak – anak dibawain golok oleh orang tuanya” Kata ibuku saat Aku masih Kuliah di Ciputat.

“Penyebabnya apa emang bu ?”  tanyaku saat itu.

“ya biasa kalau ada anak berantem, ribut, bercanda ibu marahin seperti biasanya” Ucap ibu.

“Tapi ibu marahin bukan anak Perempuan, yang ibu marahin anak laik – Laki” Jelas ibuku lagi.

Ibuku memang sering memarahi anak anak yang susah diatur saat hendak mengaji. Namun, selama kurang lebih 45 tahun ibuku mengajar ngaji, baru pertama kali dibawakan Golok bahkan ember yang ada didepan terasku menjadi saksi karena ember tersebut menjadi korbannya.

“ Dia memang menghajar ember dengan golok itu, Tapi saya merasa seperti kepala saya yang menjadi korbannya bukan ember itu” ungkap abahku saat kejadian beberapa tahun silam.

Esok paginya Kejadian tersebut menjadi perbincangan utama dikampung. Pamanku yang menjadi ketua Rt dikampung mengusulkan kepada kakaku yang pertama untuk dilaporkan kepada pihak yang berwenang. Namun ibuku mencegahnya.

“ Allah mah maha tau. Rasulullah aja yang dicaci maki, Dihina, difitnah, Bahkan diganggu saat sedang ibadah oleh orang – orang kafir tetap sabar, Masa kita karena itu aja lapor lapor polisi”  kata ibuku pada paman dan kakak.

Malampun semakin larut, kuingat – ingat kembali cerita lama yang menjadi Beban pikirku untuk dituliskannya diblogku saat ini.  Oya .... baru kuingat kembali saat lebaran Tahun 2017, Istri dari orang yang membawakan golok itu datang kerumahku dan Meminta maaf pada ibu dan abah. Entah apa yang mereka Bicarakan aku tidak mendengarnya.

“Ngapain duduk sendirian diteras malam malam gini” tanya ibu Yang menyadarkanku dari lamunan.

“hehe...” aku hanya nyengir dan bergegas masuk kedalam rumah. Pintupun ditutup, Kulihat abahku yang sedang khusu duduk didepan cemilan Dan melihat kearahku sekilas.

“Enak bah” tanyaku pada abah.

“ Enak” Jawab abah singkat.

Kulihat wajah abah kembali. Teringat dalam pikirku cerita ibu dulu, bahwa abahlah yang pertama kalinya mengajarkan ibu Huruf demi huruf hijaiyah, Lalu setelah Ibu lancar membaca Al – Quran, ibu ikut serta mengajar ngaji anak – anak kampung yang mau menelah ayat – ayat Al – Quran, dan sekarang saat Abahku Sakit, Hanya ibu yang mengajar ngaji, sedangkan abah hanya melihat ibu mengajar anak – anak yang datang kerumah.

Bilik Abatasa....

Kisah lama yang menjadi sejarah berharga bagiku. Tempat pertama dan manusia pertama yang mengenaliku pada kalam – kalamnya. Ini hanya sebagian kisah yang kuingat. Karena masih banyak cerita yang kulupa dan tidak kuketahui .

Terima kasih untuk kamu yang telah membaca Cerita “ Bilik Abatasaku” .... sampai ketemu kembali dikisahku selanjutnya....


Minggu, 03 Maret 2019

Saat musibah datang

untuk apa megutuk musibah dengan sumpah serapah.
untuk apa menyesali kejadian yang sudah terjadi.
Harta, Tahta, keluarga , bahkan tempat persinggahan terakhirpun tidak bisa ditolak kedatangannya ...


pagi hari kulirik cincin yang ada dijari kiriku, hanya sekilas. lalu kupalingkan kearah yang lain untuk menghilangkan pikiran negatif yang ada dikepala. "inikan hanya sebuah cincin emas biasa" pikirku dalam hati. namun kejadian delapan bulan yang lalu terekam jelas dalam ingatan. bagaimana mungkin sebuah cincin membawa malapetaka bagi sebuah keluarga, tidak mungkin.

jumat pagi, pukul 07 waktu indonesia bagian barat, aku, ibu, kaka, teteh, bibi, satu sepupuku, dan kedua keponakan laki - lakiku berada disebuah pasar yang ada dikecamatan terdekat. kita satu keluarga pergi kepasar untuk membeli keperluan sepupuku yang hendak berangkat kepesantren seminggu kemudian. "neng, nitip dede ya, teteh mau ketoko parfum dulu" pinta teteh iparku seraya menyerahkan anak keduanya kegendonganku. sementara yang barusan saja kugendong nangis dan minta diturunkan dari gendonganku, "umiii"... "umii".

"sini ibu gendong" kata ibuku dengan tangan kanannya siap menggendong ibbi, keponakannku. "ummii".... "ummiii"... Akhmad da'i robbi, atau biasa dipanggil ibbi tetap tidak berhenti nangis walaupun sudah pindah gendongannya ke tangan ibuku. bahkan, ia memukul ibuku berkali- kali  dengan tenaganya yang lumayan kuat bagi seumurannya.

"anak ummi nangis" suara dari arah barat muncul dengan gaya emak - emak muda yang rempong karena bayaknya belanjaan ditangannya. teteh iparku segera meletakan belanjaannya lalu menggendong ibbi yang ada dipangkuan ibu yang sedang duduk didepan toko sepatu. setelah itu aku dan ibu pamit untuk ketoko selanjutnya.

 "yang mana, ini lucu nih" kata ibu kepadaku. "tapikan harganya bu  masya Allah" kataku pada ibu. ibu tetap kokoh dengan pilihannya, sebuah cincin emas yang ada dihadapanku dan ibu menjadi topik utama pada shopingku saat ini.

"yang biasa aja bu, takutnya kita memerlukan uang banyak untuk keperluan yang lainnya" pintaku pada ibu. ibupun akhirnya mengalah. yang menjadi cincin pilihanku  akhirnya melekat sampai sekarang ditangan kiriku.

pulang dari pasar, kami sekeluarga menggunakan mobil pribadi yang biasa dipakai kakaku untuk mengasuh anak - anaknya disaat sore hari. ditengah jalan, kulihat ibbi berbeda dari hari biasanya. sikapnya yang hiper aktif  membuatku enggan untuk mendekatinya.

ditengah jalan, "bruummmm... brummmm" mobil kakaku mogok. maklum, mobil tua yang entah dibeli dari mana dan dengan harga yang sangat murah membuatnya sering mogok dan membuat onar warga tetangga. dikata membuat onar, karena suaranya yang khas dan sangat mengganggu pendengaran yang mendengarkannya, apalagi jika yang mendengarkanya itu nenek- nenek atau orang yag sedang sakit gigi.

*****

sesampainya dirumah,segera kubuka belanjaan yang baru kubeli untuk disimpan ditempatnya masing - masing, oya... ibuku memiliki sebuah warung yang mana setiap paginya abahku biasa belanja dipasar terdekat dengan menggunakan sepeda motornya, hanya pagi ini yang belanja harian bukan abahku, melainkan,aku, ibu dan kakak - kakaku.

"oweeek" suara dari arah ruang tengah membuatku segera kearah yang dituju. kucari  suara tersebut berasal dari mana, ternyata ibbi, keponakannku muntah - muntah dengan wajahnya yang pucat membuatku spontas berteriak, "tetehhh".

kakaku segera mengeluarkan mobil yang telah masuk kedalam garasi rumah untuk dibawa keklinik terdekat. rawut wajah kakaku terlihat panik campur dengan kesal melihat anaknya terkulay lemas dipangkua istrinya.

"ayo cepet, gak usah ganti baju segala gampang itumah" teteh iparku segera masuk kedalam mobil diiringi Akhmad zainal Afifin,fifin anak pertamanya dengan hanya menggunakan daster dan kerudung seadanya. diklinik terdekat, ternyata dokter tidak bisa menangani keponakannku. terpaksa kakaku membawanya kerumah sakit Alinda, yang ada dikecamatan panimbang.

malam harinya, ibbi tidak bisa dibawa pulang kerumah, yang mana itu berarti ia harus dirawat dirumah sakit. ibu, bibiku dan sepupuku yang tinggal serumah denganku ikut menginap dirumah sakit, bahkan saudara -saudaraku ikut juga menginap disana, terlebih lagi, wali murid kakaku ikut menginap juga, hanya aku dan abahku yang tidak ikut karena harus menunggu rumah. malam itu rumah sakit alinda serasa tempat pikhnik.

 ******

dikamar rumah sakit, ibuku duduk dihadapan ibbi yang terbaring dikasur, sementara pamanku duduk disebelahnya dengan posisi lebih mengarah kepintu kamar rumah sakit yang sedikit terbuka.

"Astaghfirallah" ucap pamanku spontan, ia lalu melihat sekelilingnya, ibuku yang ternyata tertidur dengan posisi duduk dihadapan ibbi, kakaku yang sedang tidur dilantai yang hanya beralaskan tikar tipis, dan sesosok makhluk yang tiba - tiba muncul dari arah pintu. pamanku segera  membagunkan kakaku dan ia izin pamit untuk pulang sebentar kerumahnya.

"nanti saya kesini lagi jam 7 pagi" kata pamanku meyakinkan. saat itu jam menunjukan ke angka 4 dini hari. ia segera menyalakan mobilnya dan meluncur dengan cepat.

sementara aku yang berada dirumah bersama abah tidur lebih cepat karena pln disekitar rumahku mati total.

"bah, udah dikunci belum pintu samping"

"udah"

"warung bah"

"udah"

"pintu belakang, tempat bensin"

"udah" kata abahku meyakinkan. Abahku segera mengambil kasur dan bantal dari kamar dan meletakannnya diruang tengah. malam ini abahku tidur diruang tengah. sementara aku yang kurang percaya dengan ucapan abah, mengecek kembali semua pintu yang ada dirumahku,apakah benar - benar sudah dikunci atau belum dan ternyata benar semuanya sudah dikunci, hanya saja pintu warung tidak digembok seperti biasanya, melainkan hanya dikunci otomatis dari pintunya, namun agar lebih aman kugembok pintu warung dengan cepat.

jam 4 pagi, kulihat didepan rumahku ada mobil putih milik paman, lalu kubuka pintu depan dan kuhampiri paman.

"gak mau lagi nginep dirumah sakit" ucap pamanku kemudian.

"paman liat nenek nenek muncul dari balik pintu, nenek nenek itu pake tutup kepala warna ijo tua, terus senyum lagi sama paman" ucap pamanku dengan mimiknya yang ketakutan. sementara aku yang mendengarkannya tertawa keras dan tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh pamanku sendiri.

"emang yang lainnya pada kemana" tanya abahku pada paman.

"cuma numpang makan doang kesana juga, yang nungguin orang sakitmah cuma tiga doang" kata pamanku dengan kesalnya.

"perasaan banyak tetangga pada kesana" ucap abahku kemudian.

"mereka cuma numpang makan, ngeroko, udah pulang aja, nengok bentar aja kaga" jawab pamanku dengan nada ketusnya.

pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam dan begitupun seterusnya. pergantian siang dan malam dengan cepat berpindah dari porosnya tanpa pernah diminta oleh siapapun, beda halnya dengan keluargaku yang masih berada dirumah sakit.

keluargaku baru pulang kerumah tiga hari setelah mendekam dirumah sakit. hari ini hari pertama keponakanku pulang kerumah, yang berarti aku harus hati - hati mengasuh keponakanku, Akhmad da'i robbi.

"mau periksa gigi kapan" suara ibu mengagetkanku dari lamunan.

"hmmm... kapan ya bu" kataku bertanya balik pada ibu.

"yaudah sore ini aja" kata ibu meyakinkan.

hari ini hari senin, aku pergi kedokter spesial gigi bersama abahku dengan sepeda motornya yang sudah luput dimakan usia. sepeda motor milik abahku itu sudah ada sejak aku duduk dibangku kelas 4 sekolah dasar.

"kapan ya bah ganti motor" kataku mengawali percakapan.

"bilang geh ke ibu, abah pengen ganti motor gitu" jawab abah dengan sedikit tertawa.

sepanjang perjalanan aku dan abah tidak pernah berhenti bercanda bersama, tertawa saat ada yang lucu disepanjang perjalanan atau hanya mengobrol masalah hiruk piruk zaman yang semakin hari semakin gila akan kemoderenannya.

"rumah dokternya dimana ya, lupa abah" kata abahku bertanya padaku seraya memberhentikan motornya.

"katanya sih dideket SD 2 bah" kataku meyakinkan.

setelah sepuluh menit aku dan abah mencari rumah dokter gigi, akhirnya sampai juga ketempat yag dituju. oya, aku periksa gigi kerumah dokternya karena setiap senin sore dokter spesialis gigi tidak ada dirumah sakit, melainkan ia membuka praktek langsung dirumahnya.

"siapa nih yang mau diperiksa, abah apa enengnya" tanya dokter bertanya padaku. padahal ia tau yang sudah berlangganan periksa gigi adalah aku bukan abahku apalagi kakaku.

satu jam aku berada diruangan yang aromanya tidakku suka, obat gigi yang menyengat kehidungku yang membuatku enggan untuk mengunjungi rumah sakit ataupun sejenisnya. setelah selesai urusanku dengan dokter gigi, aku dan abah tidak segera pulang kerumah, kita belanja untuk keperluan warung dan keperluan bulananku yang sudah habis stoknya.

"dari mana tumben pake motor sore - sore?" kata pemilik toko yang kukunjungi.

"ini nih habis nganterin kerumah dokter edi" jawab abahku dengan nada datar.

****

langit sore menampakan wajahnya dengan jelas. burung berkicauan diudara membuatku semakin menikmati berada dalam boncengan sepeda motor bersama abah. 

"ngiiiiiiiik" tiba - tiba motor abahku berhenti mendadak. aku lalu bertanya pada abah, abah hanya menjawabnya, "biasa motor tua, kerjaannya nyusahin aja". aku tertawa mendengar jawaban abah yang menurut selera humorku rendah, itu lucu.

"efek jalan juga kali bah ini mah" celetukku.

"bisa jadi" jawab abah dengan spontannya.

lalu aku dan abah melanjutkan perjalanan seperti biasanya, sepanjang jalan dengan biasanya kami berdua tidak pernah luput dari mengobrol dan bercanda ria, ketika sampai disukarendah (nama kampung), motor yang kami tumpangi mati lagi, ditambah lagi dari  arah yang berbeda
dengan kami muncul mobil truk pengangkut sawit, dan mobil karyawan PT sawit, terpaksa aku dan abah menarik motor kepinggir jalan. setelah dua mobil itu lewat, abah menarik lagi motor dari pinggir jalan ketempat semula dan hendak menyalakan motor.

"bah naik jangan" tanyaku meyakinkan. aku bertanya pada abah karena biasanya saat abah ingin menyalakan motor, aku tidak dibolehkan untuk naik terlebih dahulu, katanya sih agar motornya nyala terlebih dahulu dan agar tidak menghambat mesin motor, entah lah aku pun tidak paham.

"naik aja ayo" jawab abahku dengan santainya. saat detik inilah, ketika abah menyalakan motor, tiba - tiba gas blong dan aku beserta abah terbawa oleh motor. kami menabrak rumah orang yang terbuat dari kayu, sehingga orang yang berada didalam rumah tersebut merasakan seperti ada gempa. rumah tersebut posisinya berada dipinggir jalan , yang mana rumahnya itu lebih rendah dari jalan raya, artinya genting rumah tersebut sejajar dengan jalan raya. Abahku beserta motor menabrak tiang dan masuk kehalaman rumah, sedangkan aku sendiri tersangkut diatas genting rumah. orang - orang yang melihat kami berdua menjerit minta tolong, saat itu posisiku sedang tidak berpegangan kepinggang abah, karena tangan kiriku memegang satu pak rapia dan tangan kananku memegang erat hand phoneku.

entah kekuatan dari mana saat itu aku langsung turun dari atas genting  dan segera kuangkat tubuh abahku yang sudah berlumuran darah. kulihat wajah abahku yang penuh dengan darah hanya diam membisu, wajah kanan dan kiri abah serta dagunya seperti habis diiris oleh pisau, lukanya menganga karena menabrak reng yang terbuat dari bambu. saat itu datang saudara jauhku yang memang rumahnya dekat dengan kejadian barusan. ia segera membuka baju abahku yang sudah robek dan segera menggantikannya dengan baju suaminya. saat inilah, datang rombongan pengangkut padi disawah lewat. mereka semua segera berhenti, dan segera menelfon kakaku yang ada dirumah. lima menit kemudian datang kakaku dan kaka iparku dengan wajahnya yang cemas.

"ayo kita pulang" kata abahku yang tak sadarkan diri saat aku dan kaka iparku menggiringnya kedalam mobil.

"pulang kemana bah" tanyaku kemudian.

"ya kerumah" jawab abah.

namun aku dan kaka iparku tidak menggubris perkataan abah, kita bertiga segera membawa abah kerumah sakit dengan cepat. sepanjang perjalanan kerumah sakit, terdengan klakson motor yang bersautan satu sama lainnya, yang mana tandanya jalanan tidak bisa diganggu, klakson tersebut berasal dari motor pengangkut padi yang sengaja mengikuti mobil kami dari belakang.

sesampainya dirumah sakit terdekat, abahku hanya dioleskan obat pada lukanya. selebihnya, pihak rumah sakit tidak menyanggupi kondisi abah yang bisa dikatakan parah. mereka menyarankan untuk berangkat kerumah sakit kecamatan tetangga yang lumayan sudah canggih dan lengkap peralatannya.

"kita ini mau kemana" tanya abah ditengah jalan.

"mau ke panimbang bah" jawabku kemudian.

"emang tadi kita parah ya jatuhnya" tanya abah lagi.

"enggak bah" jawabku Asal.

sepanjang perjalanan kerumah sakit kedua, abah selalu menanyakan kejadian yang barusan terjadi. aku hanya bisa menjawabnya dengan bohong agar abah tidak memikirkan terlalu mendalam.

sesampainya dirumah sakit kedua, abah segera mendapatkan perawatan dari dokter yang ada dirumah sakit. dan mereka segera menariku dan membersihkan luka yang ada diwajah kiriku dan mengoleskannya dengan obat. saat itu aku baru sadar bahwa wajahku bengkak akibat benturan yang tidak terasa dan tidak dirasa olehku sendiri. sepuluh menit ditempat itu belum juga ada rombongan keluargaku yang datang termasuk ibuku sendiri. dan aku terpaksa mengurusi administrasi abahku saat aku telah diobati, dan kakaku menemani abahku yang sedang ditangani oleh dokter.

dirumah, ibuku syok karena yang datang kerumah hanya belanjaan dan baju abahku yang sobek dan banyak darah.

"mana orangnya" tanya ibu panik.

"kenapa ini?"

beberapa menit kemudian ibupun datang kerumah sakit. ia segera masuk keruangan dimana abah berada tanpa permisi terlebih dahulu. aku yang melihat ibu datang tiba - tiba segera menarik ibu untuk tetap diluar.

"ibu diluar aja bu, gak akan kuat" ucapku meyakinkan ibu. bagaimana ibu bisa kuat ketika melihat abah yang tidak pernah berhenti membaca semua hafalannya saat sedang dijait wajah kiri, kanan dan dagunya.  akupun kuat bukan karena benar - benar kuat, karena keterpaksaan menggantikan kakaku yang takut akan darah. kulihat wajah abah yang menahan rasa sakitnya, ia tidak hanya membaca hafalannya saja, tapi membaca tahmid, takbir, istighfar, solawat, tahlil, dan sejenisnya.

"ya Allah....." rintih abah. kutanyakan pada dokter apakah disuntik kebal atau tidak. dokter jawab ia, tapi sama saja tidak mempengaruhi rasa sakitnya, karena yang dijait itu kulit wajah yang sensitif sifatnya. kugenggam tangan abah yang mencari pegangan untuk menahan rasa sakitnya. tidak lama kemudian, pamanku datang. segera ia menyuruhku keluar ruangan dan menggantikan posisiku untuk menjaga abah.

Adzan maghrib berkumandang, segera kuambil wudhu dan menunanikan sholat maghrib dimushola rumah sakit. saat sujud, sengaja kulamakan sujudnya, ketika detik itu air mataku mengalir tanpa bisa berhenti. aku baru bisa menangis dengan puasnya saat solat dan saat berdo'a. setelah sholat, aku kembali keruangan abah. ditengah lorong rumah sakit, kulihat sekelilingnya. disitu aku teringat cerita saudara - saudaraku saat menunggu keponakanku sakit, banyak kejadian aneh terjadi. segera aku melangkahkan kakiku untuk mencari jalan yang lain tanpa harus melewati lorong panjang rumah sakit.

"bisa dibawa pulang ya dok malam ini juga" tanya kakaku pada dokter. aku tau kenapa kakaku enggan untuk menginap dirumah sakit. dia trauma dengan keangkeran rumah sakit yang banyak macam dan kejadiannya.

"kita lihat hasil ronsenan dulu ya" kata dokter pada kakaku. kakakupun mengiyakannya. lalu aku pergi ke lobi rumah sakit, kulihat disana terdapat adik adik abahku yang berbisik - bisik satu sama lainnya.

"gimana bisa dibawa pulang malam ini apa mesti nginap" tanya salah satu adik abah. kujawab dengan asal "kurang tau".

jam sepuluh malam akhirnya abah bisa dibawa pulang. ditengah jalan, mobil kakaku seperti biasanya mogok tiba -tiba. tetanggaku yang turut hadir menjenguk abahku sejak sore terpaksa harus mendorong mobil biru kakaku. hanya sekitar tiga puluh menit akhirnya kami sampai dirumah, karena yang membawa mobil bukan kakaku melainkan sepupuku yang lebih ahli dalam dunia mengendarai mobil.

sesampainya dirumah, rumahku sudah banyak tetangga yang datang. maklum, orang desa ketika salah satu ada yang terkena musibah semuanya pasti seperti merasakan musibahnya itu. apalagi abahku yang sejak lulus dari pondok pesantren menjadi guru ngaji dikampungku, sudah lebih dari 40 tahun. itu berarti hampir semua warga kampungku pernah belajar ngaji pada abahku.

"awal mulanya gimana ?" kepala desa bertanya padaku. kujelaskan kronologinya dari awal hingga sampainya aku kerumah pada semua orang yang hadir dirumahku. semuanya terheran heran seperti tidak mungkin kecelakaan itu menimpa abahku.

"biasanya juga kan tiap pagi bawa motor abah ini, naas ya" ucap salah satu tetangga yang hadir dirumahku. aku hanya mengangguk - ngangguk mendengarkan komentar mereka, biarlah mereka berkomentar, dan harus diketahui bahwa komentar mereka  itu tidak akan merubah kejadian yang telah kurasakan sebelumnya.

****

sepinya malam ini seperti sepinya perasaanku saat ini,saat aku mencoba mengingat kejadian pada bulan juli 2018 yang lalu. musibah itu nyata, nyata didepan mataku sendiri. nyata pada laki - laki pertama yang menjadi kekasihku yang diberikan tuhan untuku. Abah..., mungkin saat ini banyak orang - orang yang melihatnya tertawa karena sikapnya yang kadang kekanakan, kadang lupa dengan siapapun, dan lupa dengan semuanya.tapi bagiku itu tidak lucu sedikitpun, dan aku benci itu semua, benci pada orang - orang yang merendahkan abahku.

Abah, laki - laki yang selalu ada kapanpun. ada saat aku belajar pertama kalinya Al - Qur'an saat kecil dulu, ada saat aku belajar ceramah pada waktu madrasah, ada saat aku menangis karena diantarkan kepesantren, ada saat aku tidak bisa naik angkot dan muntah karena belum terbiasa, ada saat pulang SD rokku dan celanaku basah karena ompol, dan ada saat aku memilih berhenti kuliah.

Abah, kebiasaannya yang selalu kuingat, selalu menggendongku sebelum berangkat ngajar, bahagia saat aku pulang dari pesantren dan sakit saat aku hendak berangkat kepesantren.

Abah, saat ini aku mengharapkan kesembuhannya, betapa banyaknya ilmu yang belum aku dapatkan darinya, masih banyak kisah - kisah abah pada saat muda dulu yang belum kuketahui dan aku berharap, aku mampu menuliskan kisah tentang abah suatu hari nanti. kisah masa kecil abah yang terganggu dengan penjajahan, masa remaja ditinggalkan oleh bapaknya dan harus mengurusi delapan adik, serta ibunya yang memilih bersuami lagi, masa pendidikan abah yang dihabiskan dipesantren sejak sekolah dasar  dengan berbekalan seadanya dan satu - satunya orang yang petama kali menempuh pendidikan dikampungnya, masa dewasa abah yang memilih cerai saat sebulan setelah menikah dengan perempuan ternama dan terpintar yang ada di Almamaternya dan memilih menikah lagi dengan tetangga sendiri dan perempuan yang jauh umurnya dibawah abah.

saat ini, aku duduk didepan laptopku dengan diiringi musik - musik pop yang menggema,  dan kasur yang belum sempat kubereskan karena malas, serta ditemani dengan tisu yang basah karena air mata. bagaimana tidak, aku harus mengingat kembali kejadian yang memilukan, kejadian yang membuat ibuku melarang dengan tegasnya agar aku tidak pernah mengendarai motor sendiri sampai sekarang. bukan hanya itu yang membuatku menangis, melainkan sikap  abah yang selalu menangis ketika namaku didengar oleh telinganya, dan keinginan abah saat sadar ingatannya  untuk menjenguku dengan paksa.

musibah memang datang pada siapapun dan kapanpun. hidup tidak selalu diatas dan tidak selalu berdasarkan  perkiraan nalar semata. namun, hati tidak pernah bohong. kadang manusia selalu menyalahkan keadaan. seperti nenekku, jika bertemu dengannku selalu terucap dari mulutnya, "roha sih ngajak kedokter gigi sore - sore lagi, coba kalau diem dirumah, mungkin selamat".  atau komentar adik - adik abahku yang menyalahkan ibuku, "motornyasih gak diganti - ganti, coba aja ganti motor, mungkin selamat dan gak perlu ngeluarin uang banyak untuk berobat".

hmmm.....

komentar itu semua bagiku adalah tamparan. tamparan untuk tindakanku yang tiba - tiba keluar dari bangku kuliah, yang mana itu semua membuat abahku selalu memikirkannya, memikirkan masa depanku yang masih menjadi beban untuknya. karena hanya aku yang masih belum bisa berdiri untuk  hidup mandiri seperti kaka - kakaku pada umumnya.

kulirik cincin emas ditangan kiriku, " kamu adalah saksi atas peristiwa yang menimpa keluargaku", cincin ini ada beberapa jam sebelum keponakanku jatuh sakit, saat aku pergi kedokter gigi, dan saat motor yang kunaiki bersama abahku.......

cincin ini, bagiku bukan sebuah malapetaka bagi diriku, terlebih bagi keluargaku. namun, cincin ini menjadi sejarah hidupku. bahwa aku pernah merasakan kejadian yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.

terima kasih Allah, mungkin dengan kejadian ini hikmahnya adalah agar aku mensyukuri nikmat sekecil apapun dan tidak pernah mencela kekurangan apapun itu yang ada disekitarku.

terimakasih siapapun kamu yang telah membaca kisahku ini.....

terima kasih, tunggu kisah - kisahku selanjutnya....

see you next time.

Jumat, 01 Februari 2019

Puncak gede - 2958 Mdpl

Kecemasan membuat orang suram
Ketakutan membuat orang bungkam 
dan keberanian membuat orang maju menaklukan keduanya.  


Pada Tahun  2017 tepatnya tanggal 3- 5 November, Aku ikut muncak ke gunung gede pangrango dengan rombongan pesantren sahabatku yang ada di jakarta timur. 

Awal mula aku bisa naik gunung gede, karena aku selalu curhat kesahabatku itu tentang "galau, pengen liburan, males kuliah, dan banyak masalah pribadi yang bikin aku suntuk".

suatu hari, sahabatku itu ngajak kegunung gede. tapi, kata dia bukan dengan kakanya, melainkan dengan rombongan pesantrennya. hmmmm.... aku waktu itu gak ada pilihan lain lagi, aku langsung mengiyakan ajakannya, dan minta didaftari sebagai anggota muncak gede pangrango.

seminggu setelah ditawari muncak, aku bingung karena tidak ada uang untuk membeli perlengkapan muncak, belum punya sepatu, tas juga belum ada, bahkan jaket untuk dipake digunungpun belum punya. mau gak mau aku harus serching belanjaan yang murah lewat online shop dengan tidak terlalu memakan uang banyak. tapi, namanya juga jaman milenial, semurah murahnyapun aku habis kurang lebih 500.000 rupiah, itu belum termasuk Daftar naik gungungnya.

Sehari sebelum hari H, Aku minta restu keustadzah pesantren Mahasiswa yang aku tempati, oya sebelumnya aku mau ngasih tau bahwa aku tinggal dipesantren yang isinya mahasiswa semua yang berada di Legoso ciputat. sore itu gak seperti biasanya, aku setoran hafalan Qurannya lancar banget (biar bisa di izinin sih), tapi ustadzahku bilang "buat apa sih naik gunung, gak ada faedahnya", dari situ aku mulai deg- degan ( deg - degan karena takut gak diizinin, bukan deg - degan mau naik gunungnya sih). hmmmm... dan akhirnya setelah dilobi, dirayu, ustadzahku luluh juga, dan aku langsung berangkat menuju jakarta timur, saat itu jam menunjukan angkanya ke angka 17.00.

lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, grab bike yang aku pesan belum juga datang, bingungnya minta ampun sampe aku cancel pesanan grab yang pertama, lalu aku pesan lagi grab bike setelah itu, dan tidak lama kemudian datang juga pesanan grab yang kupesan. 

"buru- buru gak neng?" tanya babang grabnya.
"enggak bang" kataku kemudian, padahal sebenarnya aku diburu oleh waktu, tapi demi keselamatan perjalanan dari ciputat ke jakarta timur, aku bilang "tidak buru- buru". 

ditengah perjalanan, aku membuka hand phone entah untuk melihat pesan dari siapa, dan kebetulan muncul juga pesan dari sahabat yang hendak kukunjungi.

"roha, kalau udah dateng kepesantren aku, masuk aja, dan bilang temennya savith". glekkk, baiklah, rupanya sahabat aku itu sedang  ada dipesantren, dia sedang berada dijakarta barat untuk memesan perlengkapan naik gunung untuk semua santri, maklum dia itu pengurus sekaligus ustadzah yang bertanggung jawab dipesantrennya itu. 

Adzan maghrib berkumandang, aku belum juga datang ketempat yang dituju,sedangkan macetnya kendaraan tidak pernah surut dari bidikan lensa mata.

"neng, mau solat maghrib dulu ga?" Aku ditawari istirahat sebentar oleh babang grabnya itu, "boleh pak", jawabku kemudian. rupanya bapa grab yang aku tumpangi itu orang non islam yang sangat menghormati perbedaan, ketika setelah solat maghrib, kulihat babang grab hanya duduk menungguku diatas sepeda motornya.  "lanjut pak", kataku yang membuyarkan lamunannya. "siap neng" ucapnya kemudian.
 
sepanjang perjalanan, yang kuucapkan hanyalah dzikir pada Allah. karena, macetnya jalanan yang membuat semua kendaraan dijalan susah untuk bergerak sedikitpun. saat Adzan isya berkumandang, kulihat di map Hand phoneku jarak yang kutuju hanya beberapa menit lagi, namun hingga menit yang ditujupun belum juga sampai kepesantren sahabatku itu.



hmmmm.... jam sembilan malam lebih tiga puluh menit, aku baru sampai kesebuah pesantren yang dituju, itupun aku lalui dengan nyasar kesana kemari terlebih dahulu.

"roha ayo kumpul kelompok, kamu kelompok 3 ya" savith menyuruhku untuk kumpul kelompok dengan semua santri yang sebelumnya belum pernah kukenal, susah rasanya untuk mengawali perkenalan dengan orang baru bagiku.

kulihat sekitarnya, "gileee" batinku, aku tersentak saat melihat barang - barang yang mereka hendak bawa kepuncak, "Dikit dan simpel", sedangkan barang - barang yang hendak kubawa banyak dan model tasnya gedeeee,,,,,.Akhirnya mau tidak mau, aku bertukar tas dengan santri ikhwan( laki - laki) yang kapasitas tasnya sedang dan simpel.

jam setengah sebelas brifingpun selesai, aku beristirahat dikamar sahabatku yang hanya ditempati oleh dia sendiri ( maklum pengurus pesantren), tempatnya spesial dan setrategis menurutku, walaupun sedikit kecil dan udaranya yang cukup pengap.

kulihat lebih dari satu dua orang santri yang keluar masuk kamar sahabatku itu hanya untuk mengecek beberapa hand phone yang ada dikardus bawah meja belajar sahabatku itu, "iya itu hand phone semua santri dititipkan keaku ha" ucap savith ketika aku bercerita padanya, "dulu kamu yang nitipin hand phone ke teteh asrama, sekarang kamu yang dititipin ya fith" kataku padanya, lalu kucandai sahabatku itu "berarti secara tidak langsung kamu itu teteh asrama ya fith" kataku dengan gelak tawa yang keras. "enak aja" protesnya.

setelah sholat subuh, aku mengikuti rombongan yang ada untuk menuju kesebuah terminal yang paling dekat dengan pesantren, belum lama dari tempat pesantren, kakiku terasa ngilu dan badanku merasa capek. "kuat bener tuh anak - anak SD jalannya semangat dan enggak kelihatan capek sedikitpun" keluhku dalam hati. sesampainya diterminal, aku segera menuju bis yang ditunjukan oleh panitia agar aku masuk kedalamnya, "waduh, rombongan bisnya anak - anak semua, paling gede anak smp lagi" keluhku sekali lagi dalam hati. dan otomatis aku terpaksa untuk mengalah ketika yang lainnya tidak mendapatkan tempat duduk. sebenarnya akupun tidak mendapatkan tempat duduk yang layak, karena aku duduk hanya menempel setengahnya pada kursi bis yang kutumpangi, tapi sudahnya, namanya juga hidup, tidak melulu tentang enak, nyaman, tentram, dan idaman.

Empat jam perjalanan dari jakarta timur menuju cianjur, sesampainya dilapangan yang ada dicianjur
(entah tempat apa namanya, karena aku tidak mengenalnya), kami turun dari bis dan berganti naik angkot untuk menuju tempat simaksi pendakian gunung gede.


setelah selesai simaksi, makan siang, dan juga sholat dzuhur, kamipun bergegas menuju tempat yang dituju, yaitu tempat penginapan para pendaki yang bertempat tidak jauh dari gerbang pertama kali masuk area pendakian. hmmmm.... kukira malam harinya akan langsung muncak seperti orang - orang yang kudengar sebelumnya( yaitu muncak dimulai pada malam hari), nyatanya, pesantren yang kuikuti ini mempunyai agenda yang sangat spesial, bagaimana tidak spesial, acara yang diadakannya yaitu  khataman Al- quran dari sehabis sholat dzuhur hingga manghrib tiba, "luar biasa ini pesantren" komentarku dalam hati. tidak hanya itu, ternyata agenda keseharian pesantren itu wajib khatam Al - quran lima juz setiap harinya, hafalan baru minimal satu lembar  sehari dan juga diwajibkan untuk memurajaah hafalan lamanya.  dan yang lebih istimewa dari pesantren yang kuikuti ini iyalah, santri dan santrinya kebanyakan tidak sekolah, mereka tidak sekolah atau khusus menghafal Al- quran bukan karena tidak memiliki biaya, ataupun sejenisnya, mereka kebanyakan orang berada, lahir dari keluarga mampu. namun, keseriusan mereka terhadap Al -Qur'an yang tidak mau diduakan oleh hal apapun, mereka lebih mengutaman Al- Qur'an daripada pendidikan dan ilmu lainnya.

Malam harinya, kamipun pengecekan ulang barang - barang yang hendak kubawa keatas puncak nanti, saat aku sedang sibuk ditengah kerumunan santri, tiba- tiba mataku tertuju kearah sebelah kiri, "woy sombong" teriaku pada arah yang kumaksud. "baju merah rok biru kerudung biru" teriaku sekali lagi, yang diteriaki hanya mencari - cari kearah yang dia maksudnya, "eh.... kok ada anak tengil ini sih" serunya kearahku. dia adalah zaki teman Aliyahku waktu dipesantren dulu, umurku dan umurnya berbeda dua tahun, aku lebih tua dua tahun darinya, karena ia masuk ke Aliyah langsung masuk kelas sepuluh pada tahun 2013, sedangkan aku masuk ke Aliyah melalui kelas I'dad (persiapan) terlebih dahulu pada tahun 2012.

"kok kaka ikut sih" tanyanya padaku, aku hanya menjawab asal, "ceritanya panjang zak".

obrolan dan candaan saat itu mengalir begitu saja, tidak terasa akupun banyak kenalan dengan temannya zaki saat itu juga, hmmm.... ini nih datang ketempat baru dengan bermodalan sendirian selalu mempunyai teman baru dan pengalaman baru. oya, zaki ini setelah lulus Aliyah tinggal satu pesantren dengan savith hanya saja tempat yang mereka diami berbeda tempatnya, savith tinggal di pesantren Al- hayah cililitan, jakarta timur, sedangkan zaki tinggal di al - hayah sumedah, kata bahasa kerennya "satu yayasan namun beda tempatnya".

 Menjelang tidur, aku bingung harus tidur dimana, karena tempat kelompoku tadi siang, sudah penuh dengan deretan ikan yang siap dihidangkan, heheeee... itu istilah santri ketika melihat banyak santri tidur ditempat yang sama dan posisi yang sama, menghadap sebelah kanan semuanya. akupun lagi- lagi harus mengalah, aku tidur dengan kelompok zaki yang ada dilantai dua, lumayan ubin yang ada dilantai dua terbuat dari kayu yang jika tidur sembarangpun tidak takut akan masuk angin.

saat pagi tiba, aku segera bergegas kekamar mandi yang ada ditempat vila itu. maklum, satu vila yang diisi banyak santri hanya ada dua kamar mandi yang tersedia, itupun bagi dua dengan santri putra, malang tak diuntung, nasib manusiapun sudah ada yang menyusunnya, akupun tidak bisa mandi saat itu, hanya cuci muka, gosok gigi, buang air kecil, dan juga wudhu, itu sudah lebih dari cukup.

 "kaka ini makanan aku taro mana ya?" tanya teman kelompoku. mereka itu berusia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

"sini kaka bawa, kebetulan tas kaka masih ada yang kosong nih" ucapku pada mereka. mereka itu hendak naik gunung seperti hendak liburan kepantai, banyak bawa makanan, minuman, dan juga jajanan.

sebelum berangkat, semua peserta berkumpul didepan vila, semuanya melantunkan yel - yel yang sama, bener- bener kompok.

"kaka itu, ini matras, sleaping bag, dan tenda" teriaknya kearahku. aku segera berbalik arah kesuara dibelakangku. "oiya ami ( paman), terimakasih" kataku setelah menerima perlengkapan darinya.

"sekarang pemberangkatan yang terakhir, kelompok yang paling unyu - unyu ini" kata umi- umi yang ikut pendakian dengan kami. itulah kelompok yang aku berada didalamnya. aku memang diikutkan dikelompok anak -anak, kata savith itu sengaja aku masukan kamu kekolompok anak - anak, karena yang pertama, kelompok mereka itu ada panitia yang menjamin keselamatannya, yang kedua karena ini adalah momen pertama bagiku kepuncak gunung, apalagi ini adalah gunung gede yang ketinggiannya 2958 diatas permukaan laut.

setapak- demi setapakpun kulalui dengan senang hati, apa lagi satu kelompok dengan anak SD membuatku tidak takut akan tertinggal rombongan. bagaimana tidak, karena kelompok kami terlalu sering berhenti diperjalanan, lima menit jalan, sepuluh menit istirahat. Enak sih, karena jujur aku tidak kuat akan jalan jauh apalagi untuk mendaki.

kulihat teman- teman yang satu rombongan denganku selalu mengemut permen atau madu ataupun coklat dimulutnya. "kreatif juga nih bocah" kataku dalam hati.

"nyesel juga ya, aku gak bawa cemilan anak - anak" batinku dalam hati, namun penyesalan itu sirna saat aku sampai di pos satu, "hmm... cukup bawa uang banyak inimah" kataku dalam hati. jajanan atau orang yang berjualan disetiap pos selalu ada, tinggal uangnya ada atau enggak, tapi harganya dua kali lipat dari harga biasanya, wajarlah karena mereka yang hendak berjualanpun memiliki resiko yang tinggi bagi keselamatannya.






Tidak Sekedar Cerita

1 Muharam

 Apa yang kamu ketahui tentang 1 Muharam. Tahun baru Islam? Atau apa ? Makna 1 Muharam bagi semua umat Islam merupakan Tahun Baru Islam atau...