Rabu, 30 Juni 2021

Cinta Pertama (Puisi)

Ketika aku mencintaimu 
aku terdiam
Hanya memendam rasa yang tak berujung
Kau datang Dan berkata
Maukah jadi pacarku
Dengan angkuhnya aku menolak
Hingga kau berpindah ke beberapa hati
Bermesraan di depan mata
Padahal kau tahu aku mencintaimu
Ah bodoh
Dan aku lebih bodoh ketika senyumku mengembang saat kau menitipkan salam pada guru pengabdian 
Kapan ia sadar dari sikap bodohku
ah nasib 
Sembilan tahun berlalu
Rasa cinta itu terus mengakar hebat
Hingga kau datang padaku
Bukan untuk mengucapkan rasa 
Tapi datang memberiku undangan cinta 
Nasib nasib
Ternyata
Selama ini aku hanya memendam rasa yang tak terbalas
Salah siapa hanya terdiam dan mengharapkan yang tak pasti
Cinta itu dikejar bukan didiamkan berabad abad
Perintah kawan lamaku
Tapi versi itu bukan tipeku
Diam dan bisu bagiku tindakan yang tepat
Aku menyeringai dalam diri
Saat sadar cinta ini sudah terlambat
ya terlambat
Karena sekarang dia sudah menjadi ayah untuk dua sosok bayi yang tak berdosa
Selamat tinggal cinta pertamaku selain dari Ayah dan kedua kakaku
Semoga dicinta keduaku ini
Aku tidak bernasib sial kembali
Tapi, apa mungkin hal itu menjadi nyata


Minggu, 27 Desember 2020

Masa lalu, hari ini & masa depan


 “Bernostalgia ?” 

“Apakah dibolehkan bernostalgia?”

“Ah rasanya tidak. Jika ada masa depan yang mesti diperjuangkan, mengapa masih larut dalam masa lalu yang menyakitkan!”  Itulah pikirku saat melihat Pamflet lomba cerpen dengan tema “Nostalgia”. 

Nostalgia memang asik, apalagi sambil melihat deretan photo lama yang ada difile laptop. Ah rasanya tidak ingin beranjak dari masa lalu yang penuh dengan kenangan manis bersama dia, apalagi saat hari ini si dia itu sudah menikah dengan karib SMA, kacau. 

“Tugas lagi tugas lagi, kapan sih gak ada tugas” Suara dari arah kosan sebelah terdengar jelas saat aku hendak melangkah ke arah dapur. Lalu kuurungkan kembali langkah kaki agar bisa mendengarkan keluh kesah tetangga sebelah. 

“Jurusan apa sih yang gak ada tugas, pengen pindah banget sumpah” Umpatnya lagi. 

“Pak Dosen, bu Dosen, kenapa tugasnya banyak banget” Senandungnya dengan nyaring. Aku hanya tertawa kecil mendengarkan keluhannya sejak tiga puluh menit yang lalu. lalu kuingat kembali masa lalu tentang bagaimana rasanya kuliah tidak sesuai dengan kemampuan diri sendiri, sulit. Saat itu tahun 2016, setelah lulus Aliyah aku diterima disalah satu Universitas negeri di jakarta. Setahun masa kuliah itu berlangsung dengan biasa – biasa saja, ya walau pun terkadang jika ada tugas harian aku selalu meminta bantuan pada kaka kandungku yang sedang kuliah di negeri jiran, “tolong terjemahin dong kak”, kata – kata itu yang biasa aku gunakan setiap otakku buntu terhadap bahasa Arab. Aku mengambil salah satu jurusan yang berbasis full bahasa Arab, katanya sih jurusan tersebut cabang dari Universitas Cairo mesir, wallahu a’lam juga sih. 

“Kamu  gimana mau ngerti kalimat perkalimat, nahwu yang dasar aja belum faham, besok datang ke ruangan saya jam 08.30” Kalimat tersebut masih terngiang hingga saat ini.

“Keruangan i ibu bu? ” Tanyaku hati – hati.

“Iya keruangan saya, kamu remedial besok pagi dengan soal yang berbeda”

Gleeek, seketika tenggorokanku tersedak. Angin apa ini, musibah bukannya berkurang malah bertambah dua kali lipat, “mampus kali aku ini”.

Hari itu hari dimana ujian tengah semester dua berlangsung. Semakin bertambah semester, semakin tidak faham juga apa yang kupelajari di bangku kuliah saat itu. Rasanya ingin bunuh diri, tapi aku masih ingat bahwa hal tersebut sangat dilarang oleh ajaran agama yang kuanut sejak di dalam kandungan hingga akhir hayat. 

Esok paginya aku keruangan  Dosen. Sesampainya disana, “Kalau nilainya masih rendah juga, terpaksa kamu harus mengulang MK saya tahun depan”, darahku seketika mengalir lebih cepat, “ini ancaman benar – benar sesuai dengan  apa yang kukira sebelumnya”. 

Hari berlalu begitu saja, umur manusia pun berjalan dengan porsirnya. Hingga tidak terasa kuliahku sudah berada di penghujung semester ketiga. Tapi pikiranku masih mengambang, “apakah aku harus melanjutkan kuliah ini, atau meninggalkannya begitu saja”.

Setelah itu, Hari- hari pun kulalui dengan  gontai, kuliah pun kujalani dengan semaunya, kadang kuliah dan kadang juga hanya diam di Asrama. “Apa aku daftar lagi aja kali ya tahun depan dengan mengulang di semester pertama dengan jurusan yang berbeda”, pikirku saat itu. 

Tanpa menunggu persetujuan dari berbagai pihak, kulepaskan perkuliahanku dengan Cuma – Cuma. Lalu aku hanya focus pada hafalan Qur’an yang kujalani di Asrama dan buku – buku SBMPTN yang kumiliki sebelumnya untuk tes perkuliahan di akhir semester mendatang. 

 “Kok gak kuliah sih, lagi sakit tah?”

“Eh lu ditanyain bu Rima tuh, katanya mau ikut UAS apa kagak, satu kali lagi lu absen, kagak bisa UAS woy”  

 “Roha kenapa jarang masuk kuliah, ih kenapa ? ada masalah tah” 

Itu beberapa pesan chat dari teman sekelasku di perkuliahan. Namun lambat laun kehadiranku yang jarang ada di kelas, bahkan tidak pernah masuk lagi ke kampus tidak menjadi permasalahan Publik, begitu pun dengan sahabat dengatku, semuanya seperti tidak ada masalah apa – apa.

Setelah itu hari – hariku dihabiskan di Asrama. Dari bangun tidur hingga tidur lagi tidak pernah  beranjak atau  pun keluar teras, apalagi ke jalan raya. 

“Seriusan ha lu gak akan kuliah lagi, sayang banget loh orang lain tuh banyak banget yang pengen diterima di jurusan yang lu sia – sia in sekarang” Cela salah satu teman asramaku yang kebetulan ia berbeda jurusan denganku di kampus. 

“Diam lah netizen, ini masalah gua bukan masalah lu, lu kagak ngerasain aja jadi gua gimana bebannya” Balasku dengan pedas. 

“Lu seriusan kagak bakal nyesel tuh” Timpal temanku yang lainnya. Aku hanya diam sejenak, lalu meninggalkan mereka yang melihatku dengan tanda tanya. 

Enam bulan kemudian pendaftaran Kuliah ajaran baru dibuka. Segera kudaftarkan diri agar tidak terlambat mendapatkan kursi tes tulis. Asupan otak pun tidak lupa kuisi dengan mengerjakan soal – soal yang ada. “Semoga aja nasib gua baik”, pikirku dalam hati. 

Hari dimana tes tulis berlangsung, “bismillahirahmannirahim”, kulangkahkan kedua kakiku dengan cepat menuju kampus utama. Kulihat kanan kiri jalan raya menuju kampus banyak yang berbeda, padahal hanya tujuh bulan  aku berdiam diri di asrama yang jauh dari perkotaan, kenapa semuanya berubah secepat itu.

“Mau ngapain lu, tes lagi ?” Tanya Dina karib lamaku saat SMP  yang kebetulan ia ditugaskan sebagai panitia penerimaan mahasiswa baru. Aku hanya mengangkat kedua pundaku dengan gaya angkuh, “bukan urusan lu”. 

****

Ruang tes penerimaan mahasiswa baru seperti tahun – tahun sebelumnya, menegangkan. Kuisi soal SBMPTN tersebut dengan santai, karena terlalu santai dalam mengerjakannya, hingga saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru tiba, disinilah aku baru sadar, “penyesalan emang datangnya diakhir ya”, kataku dalam hati. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru tahun ini tidak seperti tahun kemarin, tidak perlu repot- repot datang ke kampus atau membeli koran harian untuk mengetahui info diterima atau tidaknya oleh universitas. Zaman sekarang sudah terlalu canggih, cukup dengan membuka halaman media kampus, maka seluruh pengumuman apa pun tertera di dalamnya. Segera kucek satu – persatu nama yang ada di laman penerimaan mahasiswa baru angkatan 2018. Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, sampai satu jam namaku belum juga ditemukan di daftar  mahasiswa baru, “alamat, gila sih, bakal jadi bulan – bulanan seluruh dunia nih kalau gini caranya”, pikirku dengan gundah. Kutarik nafas dengan perlahan agar jantungku tidak berdetak lebih kencang. 

“Gimana ha, diterima dimana lu, jurusan apa?” tanya Lia yang datang dari arah belakang. Aku hanya meliriknya lalu berlalu bergitu saja, “entah lah”. Kali ini nasibku belum baik, aku gagal SBMPTN 2018, mau bagaimana lagi, ya bukan rejekinya. Dengan tidak menunggu waktu lebih lama lagi, akhirnya kuniatkan dalam hati untuk mengikuti seluruh tes penerimaan mahasiswa baru 2018. Walau pun cukup menguras kantong dan pikiran, tapi hanya ini satu – satunya jalan yang mesti kutempuh saat itu. Penerimaan mahasiswa baru yang kuikuti mulai dari PMDK, UMPTKIN, SIMAK UI, MANDIRI, Dll. Tidak hanya itu, aku pun lebih giat lagi mengerjakan soal – soal yang ada, bahkan aku sengaja membeli lebih banyak lagi buku – buku tes penerimaan mahasiswa baru untuk referensi belajar.

 “Ah kuliah” Desisku dalam keheningan. Kubuka jendela dapur agar udara segar masuk kedalam, maklum namanya juga kos kosan, udaranya pengap dan memiliki ciri khas tersendiri, “bau kos kosan”. Kuperhatikan kembali tetangga sebelah, namun sudah tidak ada lagi ocehan dan keluhan yang kudengar dari sana. “Tidur kali ya tuh bocah”. 

Hari begitu cepat berlalu, tidak terasa dengan duduknya aku yang sedang bernostalgia dalam kesendirian telah memakan waktu dengan sia – sia, hingga aku baru sadar, “Astaghfiraall al’adzim, Siang ini kan UAS di e- learning, alamak mampus kali aku ini”. Segera kucek laman E- learning jurusan, kumasukan Nomor Induk Mahasiswa dan kutulis juga sandi yang telah kurubah sebelumnya kedalam kolom (Untuk Mahasiswa). Tanpa menunggu lagi, kucari mata kuliah “Pembelajaran Sastra dan bahasa Indonesia”.

[Mohon maaf, halaman ini sudah tidak menerima File kembali]

Badanku lemas setelah melihat laman e- learning. Segera kututup e learning dengan seksama dan kubuka what app untuk menghubungi dosen yang bersangkutan. 

“Itu bukan urusan saya” Balas seorang dosen setelah kuchatt tentang perihal keterlambatanku dalam UAS. Kutanyakan dan kulobi bapak dosen tersebut dengan hati hati, namun hasilnya nihil, yang ada malah sebaliknya, aku mendapatkan jawaban chatt yang singkat padat namun memabukan, “terlambat satu menit sama dengan satu tahun nong”, Gleeek. 

“Ya Allah aku harus bagaimana lagi”, curhatku dalam setiap sholat. Hanya sholat dan berdo’alah satu satunya jalan yang terbaik untuku saat ini. Karena aku yakin bahwa hanya itulah yang dapat menyembuhkan kegundahan yang kurasakan, hanya Allahlah satu – satunya tempat mengadu ketika semua mahkluk tidak mampu menolong masalah yang sedang dihadapi, dan hanya Allahlah yang mampu membolak balikan hati hambanya walau sekeras apa pun, dan aku sangat berharap bapak dosen yang kumaksud itu suatu hari nanti bisa berubah 180 derajat”.

Matahari sore yang menyorot ke arah dapur kini sudah tenggelam, bertanda bahwa adzan maghrib sebentar lagi dikumandangkan oleh muadzin. Segera kututup jendela dapur dan kulangkahkan kaki menuju kamar, “aku punya masa lalu yang kelam dalam perkuliahan, biarlah ia berlalu dimakan zaman, tidak perlu kusangkut pautkan dengan hari- hari yang kujalani saat ini, karena saat ini aku memiliki masa depan yang perlu kuperjuangkan”. 



 


Sabtu, 04 April 2020

Kembalilah ke Qur'an


Itulah persepsiku ketika pagi- pagi mendapatkan kepala bagian belakang terasa sakit. Entah kenapa sakitnya karena apa, yang pasti aku sangat enggan untuk meminum obat sedikit pun. 

Sebenarnya sakitnya itu dari malam hari. Aku hanya meringis sedikit agar tak diketahui oleh banyak orang. "Mungkin karena kemaren- kemarennya aku sedang halangan kali ya," ucapku dalam hati.

Sedang halangan. Ya tahu sendiri perempuan yang sedang tidak solat dll nya itu menggunakan waktu untuk berleha- leha sedemikian mungkin. Walaupun pesantrenku ketika Aliyah membolehkannya membuka qur'an kalau hanya sekedar untuk murajaah hafalan.
Tapi, tau sendirilah waktu- waktu halangan itu aku habiskan untuk baca novel, nonton, & mendengarkan music sekencang- kencangnya.

Alhasil ya... efeknya aku tanggung sendiri. Sekitar empat hari waktuku hanya diisi baca novel, nonton, dan rebahan. Ditambah lagi Kamarku yang tidak mengandung cahaya matahari menyebabkan seluruh badanku terasa sakit, kepala terasa pusing, hati, apalagi, jangan ditanya.

Dari subuh itulah aku meniatkan diri untuk tidak setoran di pagi hari. "Tilawah aja lah yang banyak, biar sakitnya sembuh dulu," karena biasanya, seperti bulan- bulan sebelumnya, setiap galau, sakit hati, marah, dan teman- temanya. Hanya satu obatnya, "memperbanyak tilwah Al- Qur'an yang pernah dihafal."

pagi itu aku hanya memperbanyak tilawah, walaupun diteriakin untuk setoran, aku hanya tersenyum dan mengambil sikap masa bodo, "nanti aja ya teh, lagi gak mood."

Setelah itu terlihat matahari pagi menyoroti tempat dimana santriwati menghafal Qur'an. "Alhamdulilaaaah ya Allah nemu matahari seger juga," ucapku kala itu.

Dengan izin Allah, sakit kepalaku hilang, badanpun terasa ringan kembali. Alhamdulilah Ya Allah batinku saat itu juga.

"Tilawah Qur'an," dulu aku menyepelekannya. Bagiku, yang penting menghafal, lalu memurajaah qur'an, itu sudah cukup. Ternyata aku keliru.

Enam bulan yang lalu, ada salah satu ustadz  ceramah di salah satu masjid, beliau  mengatakan, "ruhani kita yang sakit itu akan sembuh dengan apa yang pernah kita lakukan. Contohnya, ada orang yang sembuh ruhaninya,setelah membaca dzikir 100 kali, ada juga yang mesti 1000 kali, atau lebih. Namun berbeda dengan orang yang pernah menghafal qur'an. Mau beribu- ribu kali pun membaca dzikir seperti masih ada yang janggal, kalau belum memperbanyak tilawah. Orang yang pernah menghafal quran, tidak bisa hanya tilawah setengah juz, apalagi hanya dua halaman. Ya jika ingin tenang ruhaninya minimal dua juz, dan lebih baik 5 juz setiap harinya, baru itu hatinya akan tentram, adem, nyaman, dan bahagia.

Dari situlah aku sadar, betapa selama ini aku sering menghindar dari qur'an. Dikatakan menghindar karena aku Menghafal asal menghafal, yang penting bisa setoran pada ustadz atau ustadzah. Parah emang, hanya menggugurkan kewajiban doang.

Jangan dicontoh ya....

Di Pondok pesantren Husnul Khotimah, kurang lebih sudah lima juz dari belakang yang kuhafalkan. Diciputat sekitar.... segitulah yang kuhafalkan. Sedangkan disini.... ya segitu. Aku sadar, betapa bodohnya aku ketika hati sedang tidak tentram, minta bantuan pada orang lain, ketika sedang galau, minta dicarikan solusi, padahal dalam diri sendiri sudah ada solusi yang lebih dahsyat, ialah kembali pada Qur'an.

Terima kasih yang sudah membaca hingga akhir. Aku menulis tulisan ini bukan berarti aku sudah benar. Namun tulisan ini hanya sebagai teguran semata untuk diri aku sendiri.

Terima kasih sekali lagi, see you next time.


Sabtu, 28 Maret 2020

Jangan jadi perempuan Gampangan (Tugas RUMAH DUNIA KELAS ONLINE)





Mencintai seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya menjadi fitrah setiap perempuan. Begitu pun dengan Rani, perempuan berusia 25 tahun yang semestinya sudah membina rumah tangga, kini masih sibuk dengan urusan kuliah, kerja, dan karya.


Suatu hari, rani datang pada sahabatnya dengan menunjukan bahwa ia cemas. Laki – laki yang telah memberikan padanya harapan, ternyata hanya kata- kata manis belaka, tanpa nyata. Bagaimana mau nyata, Laki- laki tersebut merupakan suami orang lain yang sudah beranak dua orang.


“Semua Laki – laki sama aja ya ternyata” ungkap Rani pada sahabatnya itu. Namun seperti kata pepatah zaman dulu, nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimana lagi.


Riko ardiana, Nama laki- laki tersebut. Datang memberikan harapan pada perempuan yang tengah mencari pendamping hidup. “Iya nanti dua minggu lagi aku akan datang ke rumah orang tuamu” itu kata- kata manis Riko suatu hari.


Dua minggu kemudian, tidak ada tanda- tanda bahwa seorang laki- laki datang dengan maksud melamar perempuan tersebut. Yang ada malah sebaliknya, di teras rumah Rani berdiri istri Riko dengan mimik geram. “Hey perempuan murahan, ngaca dong, masa pendidikan tinggi, berkarir bagus, masih aja rebut suami orang” ulas istri riko pada rani.


Mau dibawa kemana lagi harga diri rani, dulu ia sebagai orang yang dihormati di kampungnya kini sudah tidak lagi, karena kejadian memalukan tersebut ditonton oleh banyak tetangganya. Setelah itu, cibiran dan hinaan kerap kali datang dari orang – orang sekitarnya, termasuk sepupunya sendiri. Dengan rasa perih, ia melihat kembali bagaimana Laki- laki itu datang ke kehidupannya, dalam tiga bulan telah  meraup semua tabungan miliknya, ketika ditanya mau menikahinya kapan, bukan balasan manis yang ia dapatkan, tapi malapetaka besar yang menimpanya.


“Makanya jadi perempuan jangan murahan, lihat dulu siapa laki- laki itu, jangan asal comot, lalu percaya” nasihat ibunya detik itu juga. Rani hanya diam, lalu ia mengambil ibrah dari  apa yang telah ia hadapi sore itu.

Senin, 24 Februari 2020

Pencurian di sekolah bunga (Cerpen)




“Kamu harus tahu bahwa tak semua orang mampu terdeteksi isi pikirnya, bisa jadi seseorang yang dekat denganmu lebih tamak dan rakus dibandingkan dengan seseorang yang kau curigai keburukan tingkah lakunya”.
Quotes tersebut sengaja kutulis ketika setelah pulang dari ruang kepala sekolah pada senin sore. kehilangan barang- barang berharga atau pun beberapa kepingan rupiah kadang hadir dimana saja dan kapan saja tanpa diduga. Pencurian datang dengan kesempatan yang tepat, kesempatan itu bisa jadi karena sipelaku sedang kepepet tidak ada uang dan bisa juga sikorban yang asal taruh uang tanpa pikir orang lain tidak tergiur dengan kepemilikannya tersebut.

“Hati- hati aja, kaka percaya sama Bunga, jaga Sekolah dengan baik” Itu Suara ka Lina saat memulai percakapan tadi siang  tanpa diduga sebelumnya. Bunga Pertiwi yang tidak tahu apa- apa segera menanyakan apa maksud ucapan dari lawan bicaranya itu. “Maksudnya kak?” tanyanya tidak mengerti. Ka Lina yang diberi amanah oleh sekolah sebagai pembina pramuka segera mendekat ke arah Bunga.

“Kamu ingat Lima hari yang lalu saat kepala sekolah mengumpulkan anggota kelasmu yang disuruh menulis apa saja yang pernah diambil masing-masing dari kalian  di dalam kelas?” tanya ka Lina dengan suara yang sedikit dipelankan. Bunga yang saat itu sudah lelah karena aktifitas disekolah yang padat segera mengingat kembali tentang lima hari kebelakang.
“Iya kak, Bunga ingat” ucap bunga seraya membenarkan posisi duduknya. Di sekolah Menengah Atas  (SMA) Samudra 28 Indonesia, kehilangan sedang marak- maraknya, apalagi di kelas Bunga pertiwi, kelas 11 IPA 4, kehilangan nyaris setiap hari. Mulai dari kehilangan Uang yang jumlahnya lumayan banyak, ada juga kehilangan barang- barang tertentu milik siswa maupun guru, baik itu Hand phone yang disimpan di rak penyimpanan Utama, alat tulis, kaos olah raga yang disimpan di dalam tas, bahkan kehilangan sepeda motor. Miris memang, tapi itu semua masih menjadi misteri tentang siapa yang mengambilnya, tidak sedikit yang mengaggap bahwa kehilangan tersebut disebabkan dari makhluk halus, ada yang beranggapan juga bahwa pencurian itu berasal dari orang luar sekolah, dan ada juga yang berpendapat bahwa sipencuri tersebut  ialah orang dalam yang ada dilingkungan sekolah.

“Bukan tuyul Bunga, yang mengambil itu ya orang- orang situ aja” tandas ka Lina setelah beberapa kali Bunga tidak percaya dengan apa yang ka Lina ucapkan padanya. Ka Lina bahkan menegaskan bahwa yang menjadi pelaku pencurian tersebut bukanlah hanya satu orang, bahkan lebih dari Empat orang. Mendengar hal itu Bunga hanya menelan ludah, tak disangka beberapa dari teman dekatnya menjadi si pelaku dalam korban yang menjadi pembicaraan hangat disekolahnya akhir- akhir ini.
“Ya intinya hati- hati aja ya Bunga, tidak semua orang yang kelihatan diluarnya baik  itu aslinya baik, bisa jadi yang terlihat diluarnya seperti preman malah berhati malaikat” jelas Ka Lina menegaskan perkataannya kembali. Bunga lalu balik bertanya tentang hal tersebut pada kaka pembina pramukanya itu, “Lalu kaka tahu siapa saja yang menjadi pelaku pencurian itu?”. ka Lina tersenyum mendengar pertanyaan yang barusan Bunga tanyakan padanya, “iya kaka tahu semuanya”.

“Dari mana kaka tahu si pelakunya itu mereka?” tanya Bunga setelah ia mengetahuan siapa saja yang menjadi dalang dibalik peristiwa yang memalukan tersebut. Kak lina berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan perlahan menuju ke arah pintu ruang OSIS, “Kaka tahu dari kertas yang kalian tulis lima hari yang lalu di ruang kepala sekolah”.
bunga memejamkan matanya, hatinya bergemuruh tidak karuan, lalu ia menatap ke arah  ka lina yang ada disampingnya. keduanya saling menatap satu sama lainnya, setelah beberapa menit Bunga pun pamit dari hadapan kak Lina. Sore itu ia sadar bahwa menilai seseorang itu bukanlah dari penampilan luar saja, ia lalu bergumam dalam hatinya, “akankah aku mampu merubah teman- temanku yang terbiasa mencuri menjadi manusia yang dirindukan Syurga?” pertanyaan tersebut ia tanam dalam hatinya guna untuk merubah teman temannya dan untuk peringatan pada dirinya sendiri agar terhindar dari sifat dan perbuatan yang dibenci oleh Allah SAW.

Sabtu, 01 Februari 2020

Disinilah awal Aku memulai segalanya



sore hari dikejutkan dengan suara telphone dari sebrang kota. kata ibu, paman yang kedua dari terakhir sudah siap mengantarkanku untuk tes masuk dunia pesantren, hari ini hari sabtu, hari dimana aku sedang libur sekolah, sudah dipastikan bukan berarti sekolahku benar- benar libur, tapi aku yang meliburkannya sendiri. Dengan perlengkapan seadanya, aku dan Abah berangkat sangat pagi pada keesokan harinya.

“Oweeek” aku muntah untuk kedua kalinya, entah kenapa setiap perjalanan suhu badanku seperti menolak untuk duduk manis di dalam kendaraan umum. Abah yang ada disampingku segera menyodorkan plastik hitam kedekat mulutku, “oweeek”.

“Masih jauh ya?” tanyaku pada Abah. Padahal aku hendak tes kesuatu pesantren yang tidak jauh dari kabupaten pandeglang, sekitar tiga jam pesantren yang hendak kutuju jaraknya dengan rumah. Namanya juga anak kampung yang jarang sekali bepergian dengan kendaraan, maklum saja setiap kali perjalanan menggunakan kendaraan aku selalu mabuk perjalanan.

Sobang- Panimbang- labuan- menes-  sodong- saketi- Cikaduen- mengger. Itulah perjalanan yang kulalui kira- kira begitu rutenya, di mengger kita berdua turun untuk ganti kendaraan umum lainnya, yaitu harus menaiki angkot jurusan mengger- pari. Namun, saat dimengger kulihat kaka keduaku menampakan batang hidungnya, “baru nyampe?” tanyanya sembari mengecup tangan kanan Abah. “Mana ka jumannya?” tanya Abah kemudian pada kaka. Sekitar lima menit kami bertiga menunggu Paman akhirnya datang juga. Itu Pamanku, adik keenam dari ibu yang kupanggil dengan sebutan kaka saja bukan dengan sebutan paman. Entah kenapa Aku pun tidak faham, hanya saja sampai sekarang aku mendefinisikannya “mungkin karena pamanku yang satu ini umurnya sama persis dengan kakaku yang pertama”.

“kita bertiga duluan aja ke pari” ucap paman pada aku dan kaka. Sedangkan Abahku menunggu giliran untuk dijemput kembali oleh paman.

Tidak lama dari keberangkatan kami bertiga, Abahku panik, karena ada kecelakaan pengendara sepeda motor dengan mobil. ia segera melihat ketempat kecelakaan tersebut yang tidak jauh dari tempatnya berteduh. Satu persatu manusia yang mengelilingi orang yang terkena musibah itu disingkirkannya dengan sigab, “apa yang kecelakaan mereka bertiga?” tanya Abah dalam hati. Perasaan was- was ditambah lagi campur aduk bersatu menjadi klop. Setelah dilihat dengan seksama, barulah Abah keluar  dari kerumunan banyak orang dengan mengucapkan syukur tiada henti, “Alhamdulilah bukan mereka bertiga”.

Sesampainya di pari, tepatnya di pesantren modern daar el falaah, aku duduk manis menikmati banyak soal yang sebenarnya tidak tahu  soal itu harus kuapakan. Yang terpenting selesai, tekadku saat itu. Dan itu terbukti dengan hasil pengumukan kelulusan masuk pesantren saat diumumkan.

“tunggu sebentar ya untuk melihat hasil tesnya” tiba- tiba suara panitia membuyarkan lamunanku.

“Naha bisa langsung tau gitu ya hasil tesnya, aneh” tandasku spontan.

Kulihat tabel nilai di secarcik kertas yang panitia berikan pada amplop coklat. 6.62, kira- kira segitu nilai tes masuk pesantrenku waktu SMP. Angka yang terbilang sangat rendah, tapi angka tersebut sudah termasuk cukup untuk diterimanya seorang AKU di pesantren Modern Daar el Falaah, mandalawangi pandeglang Banten.

“Kita sekarang Lihat Pesantren Putrinya ya di daerah bangkong” kata paman membuatku bingung dengan perkataannya yang barusan diucapkan.

“Di daerah pari Ini Pesantrennya untuk Putra”, katanya lagi menjelaskan padaku. Aku hanya mengiyakan saja yang barusan paman jelaskan, sekitar 1 KM kami pun akhirnya sampai di tempat Putri, kulihat sekeliling Pesantren, sangat berbeda arsitektur bangunan Putra dan Putri yang barusan aku lihat, “Ini serius nih pesantren yang akan aku tempati” kataku dalam hati.

Disinilah, Pesantren Modern Daar el Falaah Putri, yang terletak di Bangkong, Mandalawangi, Pandeglang, Banten. Disinilah Awal aku memulai segalanya.

Minggu, 26 Januari 2020

Cerita Anak Kampung


Hari ini jam 07 - 00 pagi hari, ustadz tidak biasanya mempersilahkan santriwati pulang lebih cepat, karena biasanya tidak demikian. kegiatan liburan kuliah ini di isi dengan Dauroh menghafal Qur’an full sebulan, dari mulai subuh hingga jam 09 – 00 pagi di isi dengan setoran ziadah, setelah itu istirahat untuk mandi, makan pagi, piket, dan sebagainya sampai jam 11 – 00. Jam 11 – 00 hingga jam 13 – 00 di isi dengan tilawah Al – Qur’an, setelah itu istirahat hingga Ashar. Ba’da Ashar kegiatan kami yaitu memurajaah hafalan yang di punya hingga jam setengah enam sore. Solat maghrib & Isya berjamaah di masjid, setelah isya lanjut untuk setoran ziadah hingga jam 22 – 00.
“katanya sih kumpulan sama gubernur gitu”.
 “Ngapain kita rapat sama gubernur?”.
“Kita kan santri, kamu gak tau santri itu sangat berperan penting dalam kemerdekaan indonesia, santri gak bisa diremehkan gitu dong”.
“Selow aja sih gak usah nyolot”.
 “Lagian, hidup di pesantren trus dari kecil, kaya anti banget denger nama santri naik drajatnya, huuuuh”.
Percakapan pagi ini tidak karuan, antara menebak- nebak perintah ustadz yang harus sudah siap jam 07- 00 pagi hari di depan gerbang Citra Land dan percakapan tentang kehaluan santri yang kadang merajalela.
“mungkin kita di ajak refresing dulu kali ya, heheehehehe”. Ungkap salah satu dari santriwati yang sedang berjalan ke arah bis.


Di dalam bis, jumlah santriwati sudah banyak yang duduk di kursi bis, aku dan teman- teman pondok enam sampai bingung harus duduk dimana. Tanpa ba bi bu, akhirnya kami bersepuluh berdiri dari awal perjalanan hingga tujuan yang akan dituju.
“ke KP3B doang kok guys gak perlu panik takut pingsan”, ucapku ke arah teman- teman yang sama berdiri sepertiku. Karena kami yang biasa terlatih julid satu sama lainnya mereka membalas perkataanku dengan santainya, “siapa sih yang suka pingsan di kRL atau Busway kalau berdiri sepanjang perjalanan, sory sory ya kagak pernah”.
Perjalanan citra land puri indah serang – KP3B (Kawasan Pusat Pemerintah Provinsi banten) berjalan lancar, tidak seperti biasanya macet totaaaal, dan macet tersebut biasa aku lalui setiap hari jika hendak pergi ke kampus. Kebetulan tempat kuliahku searah dengan KP3B tersebut.
“lihat geh lihat kampus siapa woy itu yang gersangnya parah banget”, tiba- tiba muncul suara tersebut dari arah belakangku. “huuuh, sabar ya Allah sabar”, kataku sambil mengelus hati seraya tertawa. Kampus tarbiyah UIN Banten, kampus baru yang terletak di palima, katanya sih tahun 2020 akan dipindahkan semua Mahasiswa UIN Banten ke lahan yang masih gersang tersebut. tapi nyatanya, bangunan pun dari hari ke hari tidak pernah bertambah satu pun, hehehe.


 Setelah turun dari bis, kulihat banyak sekali santri dari berbagai daerah, santri tersebut khusus sengaja di undang ke gedung ini, gedung Gubernur banten. Satu persatu kami berjalan masuk ke dalam gedung tersebut, kulihat tulisan besar di depan mata “Rapat forum Silaturahmi santri 2020”, sepenting inikah santri Baiturohim di undang pagi ini.
“eh lihat geh sebelah kanan, ada Gubernur wey”.
“Mana? Mana? Mana wooy?”
“ituuuuu looooh”
Pak wahidin Halim, beliau maju ke depan dan memberikan sambutan sekaligus laporan tentang pembangunan kawasan di seluruh provinsi yang ada di Banten, beliau mengatakan bahwa apabila ada pembangunan atau jalan yang masih tidak layak di pakai untuk segera melapotkannya langsung ke beliau. Saat itu juga salah satu teman pondokku memberikan pesan chat melalui what app, “teh, lapor sana, jalan Kacapi masih jelek kan, lumayan loh nanti kondangan ke teteh udah bagus jalanannya”. Aku hanya membalasnya “gak ada photo nya weey gimana, coba aja ada photo sebagai buktinya”.
Jalanan di desaku bisa dikatakan memang sangat rusak, sejak dulu sampai sekarang belum pernah di aspal seperti jalanan yang biasa aku lalui di berbagai daerah di indonesia. Bahkan, kemarin saat aku Trip ke peloksoknya lebak, jalanan desaku masih kalah saingnya, jauuuh kalahnya.
“kalian belum pernah kan sekolah nyeker plus ngadepin lumpur selutut anak SD” kataku memulai percakapan saat acara pembukaan rapat selesai. Semua temanku hanya mendengarkan perkataanku, perkataan yang tidak dibuat- buat, ini real pernah aku rasakan saat kecil dulu. Pergi ke sekolah sekitar 2 kilometer dari rumah, dulu belum ada sekolah yang dekat dengan rumahku, jadi terpaksa setiap pagi harus berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh. Setiap musim penghujan, aku biasa membawa sepatuku di dalam tas, sedangkan kakiku dibiarkan telanjang kaki tanpa alas apapun, resikonya hanya ada dua, jika jalanan penuh lumpur kaki akan kotor, lebih parah lagi jika jalanan penuh dengan bebatuan dan tanah licin, kaki bukan hanya kotor saja tapi bisa luka jika belum biasa berjalan di kondisi tersebut, untungnya kakiku sepertinya sudah kebal dengan kondisi yang seperti itu.
“trus pakai sepatunya dimana?” tanya salah satu teman yang ada di sampingku.
“yaaa pas udah datang ke sekolah atuh” jawabku dengan tanpa sadar logat sundaku keluar.
“maksudnya?” tanya vani tidak faham.
“O iya ya, jadi gini, kan setiap penghujan sepatu aku kan di masukan ke dalam tas, saat datang ke sekolah ya kita cuci kaki di pinggiran sekolah, kebetulan di pinggiran sekolahku ada kubangan air yang lumayan besar, disitulah kita cuci kaki plus pakai sepatu masing- masing” jelasku pada mereka.

Menjadi anak yang dilahirkan di kampung memang memiliki cerita unik tersendiri, berangkat dan pulang ke sekolah sudah terbiasa dengan jalan kaki yang bukan hanya jarak saja yang jauh, melainkan akses menuju ke sekolah pun bisa dibilang sulit pada masa itu. Kadang kala aku dan teman- teman se kelas yang berasal dari kampungku mengendarai sepeda motor ditumpuk ber lima dengan yang mengendarainya, hari ini pulang sekolah dijemput oleh Abahku, esok hari dijemput oleh Ayahnya Ica Purnama sari, lusa dijemput oleh Ayahnya sarinah, dan esoknya lagi dijemput oleh ayahnya Hamdah. Gitu dan gitu setiap harinya. Kalau tidak ada yang menjemput dari orang tua kami beempat, ya jalan kaki bareng, walau jalan kaki saat pulang ke rumah menyebabkan lebih lambat untuk sampainya, karena dijalanan kami asik bermain, mengobrol, dan drama- dramaan ala sinetron tahun 2000 an.
“mang ikut mang”
“mang stop mang”
“satu dua tiga”
Semua siswa –siswi berjejer rapi di tengah jalan saat ada mobil truk pengangkut kayu yang hendak melintas ke kampung halamanku, supir truk itu pun sudah hafal apa yang ia harus lakukan, berhenti lalu turun dan membukakan penutup belakang truk.
“pulang marilah pulang, pulang bersama- sama, mari pulang marilah pulang marilah pulang bersama- sama”.
Dan Itulah salah satu kebiasan yang dilakukan kami anak kampung saat pulang sekolah dan kebetulan musim penebangan kayu sedang gencar- gencarnya dilakukan, itu dia memberhentikan truk yang hendak ke kebun kayu tersebut. Satu truk bisa penuh diisi oleh anak – anak sekolah dasar, mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam. 
“gile sih ekstim juga ya si oha” suara bela tiba- tiba merespon curhatan panjangku tentang hidup yang dibesarkan dikampung yang sampai sekarang bisa dibilang masih ketinggalan jaman. Bagaimana tidak ketinggalan jaman, listrik saja di kampungku baru ada saat aku kelas empat sekolah dasar, kalau masalah jalan? Masih sama seperti dulu, hanya saja tidak lebih parah dari jaman saat aku sekolah dasar. Dulu berlumpur, terjal, dan susah untuk sekedar melintas pun. sekarang lebih mending, walau pun masih berbatu, dan masih ada kubangan di tengah jalan di beberapa titik jalan raya.
“Kok bisa sih masih jelek, emang pemerintahan setempatnya  kagak ada?” tanya gina tiba- tiba.
“Ya ada lah masa kagak ada” jawabku santai.
“Kok masih jelek aja sih, ini kan 2020” ucap tama sembari memegang botol minumnya. 
“iya juga ya kalau dipikir- pikir mah” jawabku pelan.
Perkataan tama barusan menyadarkanku tentang laporan Gubernur banten, bapak Wahidin Halim yang menampilkan beberapa slide tentang pembangunan dan juga beberapa akses jalan raya di provinsi Banten, dalam slide tersebut tergambar beberapa jalan raya yang dulunya tidak layak menjadi bagus dan rapi, begitu pun dengan bangunan, seperti rumah sakit, sekolahan, masjid semuanya terlihat jelas oleh mataku sendiri. disana dijelaskan yang dibangun itu di titik daerah yang ada di Serang, Anyer, Lebak, Tanggerang, dan Pandeglang.
“Trus kenapa akses jalan raya di desaku masih begitu- begitu aja ya” tanyaku pada diri sendiri.
“Apa mungkin menunggu antrian dengan desa lain yang ada di kecamatan, atau .....” tanyaku dalam hati seraya terus menikmati pemandangan pulang dari arah KP3B menuju pesantren Al- Qur’an Baiturohim, serang Banten.

Semoga kita semua Amanah dalam menjalankan tugas mulianya masing- masing, pelajar bertanggung jawab dalam proses belajarnya, guru bertanggung jawab dalam mencerdaskan anak bangsa dan etika maupun moralnya, petani bertanggung jawab dengan lahan tanaman yang diberikan tuhan padanya, dokter bertanggung jawab atas pasien yang membutuhkan kesembuhan, dan pemerintah bertanggung jawab atas tugasnya sebagai pelayan rakyat. 
Terima kasih semua.
See you next time.... 






Tidak Sekedar Cerita

1 Muharam

 Apa yang kamu ketahui tentang 1 Muharam. Tahun baru Islam? Atau apa ? Makna 1 Muharam bagi semua umat Islam merupakan Tahun Baru Islam atau...