Senin, 26 September 2022

1 Muharam

 Apa yang kamu ketahui tentang 1 Muharam. Tahun baru Islam? Atau apa ?


Makna 1 Muharam bagi semua umat Islam merupakan Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriah . Tahun Baru Islam adalah salah satu hari besar bagi umat muslim di seluruh dunia sekaligus menjadi hari penting dalam sejarah Islam.


Bagiku, hari itu pun merupakan menjadi momentum yang sangat penting dan tidak pernah kulupakan selama-lamanya. Momen dimana, rasanya ujian hidup itu hanya akulah yang merasakannya. 


"Patah hati terbesar seorang anak perempuan itu ialah ketika kematian ayahnya" 


Awal aku mendengar kata-kata itu rasanya ada yang kurang pas. "Toh aku gak merasa hal itu benar, padahal dalam kenyataannya sadar atau tidak, aku sungguh merasakan dampak kehilangannya". 


Saat malam 1 Muharam. Tepatnya di RS Adjidarmo Rangkas Bitung, kulihat banyak warga yang merayakan malam 1 Muharam. Riuh gemuruh semuanya merasakan kesenangannya masing-masing. Tapi tidak dengan aku dan keluargaku. Kami hanya melihat semua warga Rangkas Bitung dari jendela rumah sakit. Perasaan keluargaku penuh dengan cemas dan masih ada harapan tentangnya. Tapi lain halnya denganku sendiri. Perasaanku saat itu tidak karuan, aku bingung dengan perasaanku sendiri, tidak ada sedih, cemas, atau lainnya. Aku sebagai anak bungsu hanya mengerjakan apa yang harus aku kerjakan. Menjaga Abah (saat malam itu), membangunkan kaka-kakaku ketika mereka ketiduran, dan membelikan makanan untuk tetangga jika ada yang datang menjenguk kerumah sakit. Bisa dibilang, pada malam hari itu hatiku benar-benar kosong. 


Begitu pun dengan keesokan harinya. Saat aku melihat seluruh peralatan rumah sakit mulai di lepas satu persatu dari tubuh abah, aku hanya diam membisu. "Talqinin" hanya kata itu yang kudengar dari seorang dokter. 


"Yasin walqur'anil hakim".....


Badanku saat itu seperti seorang robot. Saat kain sudah menutupi seluruh tubuh abah, dan badanku tiba-tiba duduk serta membaca surat Yasin berkali-kali dihadapannya. Namun, perasaanku kosong.  


Dan ketika jenazah Abah mulai dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Aku pun saat itu tidak ikut dengan ambulans tersebut karena harus menemani kakaku di mobil pribadinya. Sepanjang perjalanan Rangkas Bitung - Sobang, tidak ada rasa sedih atau pun lainnya. Aku malah asik dengan membalas chat yang masuk ke dalam smartphoneku. 


"Ayo ikut sini" itu ajakan bibiku yang bungsu saat sampainya aku dirumah. Jika tidak diajak olehnya, jujur aku bingung harus bertindak bagaimana. Jika nangis, nangis karena apa? 


Mulai dari membersihkannya, memandikannya, mengkafaninya dan membersihkan peralatan bekas di rumah sakit atau pun saat pengurusan jenazah, Alhamdulillah aku turut hadir di garis terdepan. Jujur, disitulah aku merasakan bahwa ilmu fiqih tentang jenazah yang selama aku pelajari di SMA, UIN Jakarta, dan UIN Banten tidak ada apa-apanya dengan kenyataan praktek saat di depan mata. 

 

                                 ******* 

(Tentang perasaan hati seorang anak perempuan)


Perasaan sedihku muncul saat tanah satu persatu menutupi tubuh abah. Disitulah aku runtuh. Rasa sedih, cemas, hancur bercampur menjadi satu. Tapi tangis itu masih kutahan, tidak sepenuhnya ku hempaskan di depan publik.

                                       ******

(Tentang rasa sedih) 


Suatu ketika ada yang bertanya padaku "sedih gak sih awal-awal kehilangan ayah tuh?" 


Jujur. Jika ada pertanyaan seperti itu, aku menjawabnya "biasa-biasa aja". Mungkin jawaban tersebut terdengar aneh. Tapi bagiku hal itu wajar. Karena dari Usia 12 tahun aku sudah merantau ke daerah orang, jadi rasa kehilangan itu kadang tidak kurasakan. Namun, rasa kehilangan itu muncul saat imanku sedang lemah, Al Qur'an kadang kutinggalkan dan aktivitas ruhaniah tidak kukerjakan. Disitulah aku merasakan kehilangan seorang ayah. Mungkin orang lain bertanya-tanya. Kenapa seperti itu? 


Yaa.... Saat imanku lemah, Al Qur'an kadang kutinggalkan, dan aktivitas ruhaniah tidak kukerjakan, Bayangan sosok Abah hadir di mimpiku. Bayangan Abah hadir di mimpiku itu dalam keadaan haus dan lapar. Kuliat disana hanya ada Kaka pertamaku yang memberikan air padanya. Seketika aku pun segera bangun dari mimpi itu, dan disitulah aku sadar bahwa aku sudah tidak punya seorang ayah.Dan tugasku hanya satu, ya mendoakan untuknya.


Pernah suatu ketika. Saat liburan pesantren, Aku sama sekali tidak tilawah Al-Qur'an selama dua Minggu lebih. Disitulah aku bermimpi, namun dalam mimpi itu tidak ada sosok yang bisa kulihat, hanya ada suara Abah dan berkata "jangan pernah tinggalkan tilawah Al-Qur'an". 


Satu lagi yang kuingat mimpi tentang Abah. Suatu hari aku kabur dari setoran pagi, dan tidurlah aku di tempat tersembunyi. Disitulah aku mimpi dengan tanpa sosok. Dan dalam mimpi itu aku bertanya"bah, apa sikap malasku ini saat menuntut ilmu dan seluruh dosa dosa yang kuperbuat memberatkan pertimbangan Abah disana" dan hanya jawaban singkat yang kudengar disana "tidak". 


                                    ***** 


Ah, membahas tentang kehilangan seorang ayah untuk anak perempuannya jika dijabarkan dengan detail tidak akan cukup untuk ditulis dalam laman blogger. Begitu pun denganku. Kehilangan ayah, kadang aku mengatakannya "biasa saja", terkadang "tidak merasa kehilangan". Namun, sadar atau tidak. rasa kehilangan itu kadang muncul disaat-saat tertentu. 


Aku merasa kehilangan ayah saat memimpikannya, saat tiba dirumah ketika pulang dari pesantren, ketika hendak berangkat lagi ke pesantren, saat melihat photo Abah, dan satu lagi, ketika malam 1 Muharam. 


Sampai saat ini. Tepatnya pada tanggal 1 Muharam 2022 kemari. aku takut dengan malam 1 Muharam itu. Rasa takut, cemas, kecewa, dan trauma itu hadir dalam diriku.


Rasanya aku trauma dengan pawai obor di malam 1 Muharam itu. Sampai temanku bertanya "kenapa teh", saat mendapatkanku menangis sejadi jadinya di malam itu. 


Ah, aku pun tidak tahu dengan perasaanku sendiri. 


Malam 1 Muharam, aku takut dengan pawai obor itu. 


Sekian....... 



Sabtu, 17 September 2022

Pendidikan anak-anak

 Kadang heran sama beberapa orang disekitar lingkungan selalu ngeluh "gak usah mondok, gak usah sekolah, kita gak ada uang, kita bukan orang kaya". Hmmmm. Tapi dibalik itu semua aku bersyukur punya orang tua yang super banget hebatnya. Yaaaa, kedua orang tua aku bukan manusia yang terlahir dari keluarga mampu, bukan juga orang berpendidikan tinggi dan punya gaji tinggi. Tapi, beliau punya hati nurani yang tinggi. Sejak tahun 1980 an sampe sekarang jadi guru ngaji di kampung, ya you now lah, gratis.... Gak ada bayaran dari murid ataupun pemerintah sepeserpun. Eh, kalau sekarang sejak 2020 dapet sih dari pemerintah, 300 ribu per tiga bulan. Dan Ayah aku merintis MI dan MDTA sejak 1984 sampe 2010 itu pun gratis juga, gak dipungut biaya dari muridnya ataupun dapet dari pemerintah, ya benar-benar lilahita 'ala. Kalau sekarang, kata kakakku yang pertama sebagai pemegang yayasan tersebut dapet sih dari Kemenag, "walaupun gak sesuai dengan keadaan, syukuri aja" gitu katanya. 


Tapi walaupun gratis, gak bergaji, Rizki untuk menyambung hidup dari hari ke hari ya Alhamdulillah selalu ada. Ayah aku selain merintis sekolah dan guru ngaji dikampung juga punya profesi lain yang mulia, yaitu petani. Kata ibuk "pertama nikah boro-boro punya sawah luas kaya sekarang, kebun dimana-mana, orang piring, gelas, mangkok aja cuma 1 untuk berdua. Apalagi kasur, gak ada". 


"Hidup itu kudu merih" itu kata-kata yang sering di ucapkan ibu disaat tetangga ngeluh karena ini dan itu. 


Berawal di tahun 1991. Saat Kaka pertama mau lulus SD dan bingung harus melanjutkan sekolah dimana. "Kalau dikampung, pasti ini anak gak akan bisa apa apa". "Mau sekolah atau mondok, tapi biayanya dari mana" itulah mungkin keluh kesah ibu saat itu. Dan entah Ilham dari mana, Kaka pertama aku mengusulkan ke ibuk dan Ayah untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah. Dari situlah Rizki keluarga kami sedikit demi sedikit berubah. 


Ibuk selalu bilang, "Rizki itu pasti ada kalau diusahakan mah, apalagi untuk biaya anak menuntut ilmu. Gak apa apa capek sekarang, gak usah goyah liat kanan kiri tetangga yang anaknya usia masih belasan tahun udah ngasih uang ke orang tuanya, kita mah focus aja orang tua kerja, anak menuntut ilmu". 


Itulah kehebatan kedua orang tuaku. Kehebatan yang belum aku liat dari siapa pun. Kadang heran dengan prinsip ibuk, ibuk selalu berkata bahwa "anak laki-laki wajib lulus S3, dan perempuan lulus S2, ibuk siap membiayainya selama ibuk masih ada". 


Thanks Allah atas kebaikannya. Kebaikan telah melahirkan aku dari pasangan yang begitu hebatnya....

Nikmat mana lagi yang harus kudustakan. Walau terkadang saat usiaku di bangku SMP SMA yang notabene nya dilingkungan orang orang berada, berada di pesantren yang menengah elite aku kurang bersyukur dengan nikmat itu semua. Kadang iri dengan teman-teman yang berada di atas, kadang minder dengan profesi orang tua mereka. Ah.... Bocil, maafkan aku Ayah ibuk.... Sekarang aku sadar. Bahwa kalian lebih hebat dari orang tua mereka. Kalian selalu mengutamakan pendidikan anak-anak dibandingkan kesenangan sendiri. Ibu pernah bilang "baju baru itu gak penting, kebutuhan ibu dan Ayah bukan baju baru atau kendaraan baru, kebutuhan ibuk dan Ayah yang utama itu ya biaya pendidikan anak-anak". 


Ya Allah, aku tahu, Membahas tentang kedua orang tua yang hebat seperti kedua orangtuaku tidak akan ada habisnya. Harapanku hanya dua. Pertama, semoga ibuk selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, keimanan yang istiqamah, dan dipanjangkan usianya. Dan kedua, semoga Ayah di alam sana diampuni segala dosa dosanya, diberikan tempat yang layak, dan dimudahkan oleh Allah untuk Masuk ke syurganya. Amiiin 



Rabu, 30 Juni 2021

Cinta Pertama (Puisi)

Ketika aku mencintaimu 
aku terdiam
Hanya memendam rasa yang tak berujung
Kau datang Dan berkata
Maukah jadi pacarku
Dengan angkuhnya aku menolak
Hingga kau berpindah ke beberapa hati
Bermesraan di depan mata
Padahal kau tahu aku mencintaimu
Ah bodoh
Dan aku lebih bodoh ketika senyumku mengembang saat kau menitipkan salam pada guru pengabdian 
Kapan ia sadar dari sikap bodohku
ah nasib 
Sembilan tahun berlalu
Rasa cinta itu terus mengakar hebat
Hingga kau datang padaku
Bukan untuk mengucapkan rasa 
Tapi datang memberiku undangan cinta 
Nasib nasib
Ternyata
Selama ini aku hanya memendam rasa yang tak terbalas
Salah siapa hanya terdiam dan mengharapkan yang tak pasti
Cinta itu dikejar bukan didiamkan berabad abad
Perintah kawan lamaku
Tapi versi itu bukan tipeku
Diam dan bisu bagiku tindakan yang tepat
Aku menyeringai dalam diri
Saat sadar cinta ini sudah terlambat
ya terlambat
Karena sekarang dia sudah menjadi ayah untuk dua sosok bayi yang tak berdosa
Selamat tinggal cinta pertamaku selain dari Ayah dan kedua kakaku
Semoga dicinta keduaku ini
Aku tidak bernasib sial kembali
Tapi, apa mungkin hal itu menjadi nyata


Minggu, 27 Desember 2020

Masa lalu, hari ini & masa depan


 “Bernostalgia ?” 

“Apakah dibolehkan bernostalgia?”

“Ah rasanya tidak. Jika ada masa depan yang mesti diperjuangkan, mengapa masih larut dalam masa lalu yang menyakitkan!”  Itulah pikirku saat melihat Pamflet lomba cerpen dengan tema “Nostalgia”. 

Nostalgia memang asik, apalagi sambil melihat deretan photo lama yang ada difile laptop. Ah rasanya tidak ingin beranjak dari masa lalu yang penuh dengan kenangan manis bersama dia, apalagi saat hari ini si dia itu sudah menikah dengan karib SMA, kacau. 

“Tugas lagi tugas lagi, kapan sih gak ada tugas” Suara dari arah kosan sebelah terdengar jelas saat aku hendak melangkah ke arah dapur. Lalu kuurungkan kembali langkah kaki agar bisa mendengarkan keluh kesah tetangga sebelah. 

“Jurusan apa sih yang gak ada tugas, pengen pindah banget sumpah” Umpatnya lagi. 

“Pak Dosen, bu Dosen, kenapa tugasnya banyak banget” Senandungnya dengan nyaring. Aku hanya tertawa kecil mendengarkan keluhannya sejak tiga puluh menit yang lalu. lalu kuingat kembali masa lalu tentang bagaimana rasanya kuliah tidak sesuai dengan kemampuan diri sendiri, sulit. Saat itu tahun 2016, setelah lulus Aliyah aku diterima disalah satu Universitas negeri di jakarta. Setahun masa kuliah itu berlangsung dengan biasa – biasa saja, ya walau pun terkadang jika ada tugas harian aku selalu meminta bantuan pada kaka kandungku yang sedang kuliah di negeri jiran, “tolong terjemahin dong kak”, kata – kata itu yang biasa aku gunakan setiap otakku buntu terhadap bahasa Arab. Aku mengambil salah satu jurusan yang berbasis full bahasa Arab, katanya sih jurusan tersebut cabang dari Universitas Cairo mesir, wallahu a’lam juga sih. 

“Kamu  gimana mau ngerti kalimat perkalimat, nahwu yang dasar aja belum faham, besok datang ke ruangan saya jam 08.30” Kalimat tersebut masih terngiang hingga saat ini.

“Keruangan i ibu bu? ” Tanyaku hati – hati.

“Iya keruangan saya, kamu remedial besok pagi dengan soal yang berbeda”

Gleeek, seketika tenggorokanku tersedak. Angin apa ini, musibah bukannya berkurang malah bertambah dua kali lipat, “mampus kali aku ini”.

Hari itu hari dimana ujian tengah semester dua berlangsung. Semakin bertambah semester, semakin tidak faham juga apa yang kupelajari di bangku kuliah saat itu. Rasanya ingin bunuh diri, tapi aku masih ingat bahwa hal tersebut sangat dilarang oleh ajaran agama yang kuanut sejak di dalam kandungan hingga akhir hayat. 

Esok paginya aku keruangan  Dosen. Sesampainya disana, “Kalau nilainya masih rendah juga, terpaksa kamu harus mengulang MK saya tahun depan”, darahku seketika mengalir lebih cepat, “ini ancaman benar – benar sesuai dengan  apa yang kukira sebelumnya”. 

Hari berlalu begitu saja, umur manusia pun berjalan dengan porsirnya. Hingga tidak terasa kuliahku sudah berada di penghujung semester ketiga. Tapi pikiranku masih mengambang, “apakah aku harus melanjutkan kuliah ini, atau meninggalkannya begitu saja”.

Setelah itu, Hari- hari pun kulalui dengan  gontai, kuliah pun kujalani dengan semaunya, kadang kuliah dan kadang juga hanya diam di Asrama. “Apa aku daftar lagi aja kali ya tahun depan dengan mengulang di semester pertama dengan jurusan yang berbeda”, pikirku saat itu. 

Tanpa menunggu persetujuan dari berbagai pihak, kulepaskan perkuliahanku dengan Cuma – Cuma. Lalu aku hanya focus pada hafalan Qur’an yang kujalani di Asrama dan buku – buku SBMPTN yang kumiliki sebelumnya untuk tes perkuliahan di akhir semester mendatang. 

 “Kok gak kuliah sih, lagi sakit tah?”

“Eh lu ditanyain bu Rima tuh, katanya mau ikut UAS apa kagak, satu kali lagi lu absen, kagak bisa UAS woy”  

 “Roha kenapa jarang masuk kuliah, ih kenapa ? ada masalah tah” 

Itu beberapa pesan chat dari teman sekelasku di perkuliahan. Namun lambat laun kehadiranku yang jarang ada di kelas, bahkan tidak pernah masuk lagi ke kampus tidak menjadi permasalahan Publik, begitu pun dengan sahabat dengatku, semuanya seperti tidak ada masalah apa – apa.

Setelah itu hari – hariku dihabiskan di Asrama. Dari bangun tidur hingga tidur lagi tidak pernah  beranjak atau  pun keluar teras, apalagi ke jalan raya. 

“Seriusan ha lu gak akan kuliah lagi, sayang banget loh orang lain tuh banyak banget yang pengen diterima di jurusan yang lu sia – sia in sekarang” Cela salah satu teman asramaku yang kebetulan ia berbeda jurusan denganku di kampus. 

“Diam lah netizen, ini masalah gua bukan masalah lu, lu kagak ngerasain aja jadi gua gimana bebannya” Balasku dengan pedas. 

“Lu seriusan kagak bakal nyesel tuh” Timpal temanku yang lainnya. Aku hanya diam sejenak, lalu meninggalkan mereka yang melihatku dengan tanda tanya. 

Enam bulan kemudian pendaftaran Kuliah ajaran baru dibuka. Segera kudaftarkan diri agar tidak terlambat mendapatkan kursi tes tulis. Asupan otak pun tidak lupa kuisi dengan mengerjakan soal – soal yang ada. “Semoga aja nasib gua baik”, pikirku dalam hati. 

Hari dimana tes tulis berlangsung, “bismillahirahmannirahim”, kulangkahkan kedua kakiku dengan cepat menuju kampus utama. Kulihat kanan kiri jalan raya menuju kampus banyak yang berbeda, padahal hanya tujuh bulan  aku berdiam diri di asrama yang jauh dari perkotaan, kenapa semuanya berubah secepat itu.

“Mau ngapain lu, tes lagi ?” Tanya Dina karib lamaku saat SMP  yang kebetulan ia ditugaskan sebagai panitia penerimaan mahasiswa baru. Aku hanya mengangkat kedua pundaku dengan gaya angkuh, “bukan urusan lu”. 

****

Ruang tes penerimaan mahasiswa baru seperti tahun – tahun sebelumnya, menegangkan. Kuisi soal SBMPTN tersebut dengan santai, karena terlalu santai dalam mengerjakannya, hingga saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru tiba, disinilah aku baru sadar, “penyesalan emang datangnya diakhir ya”, kataku dalam hati. Pengumuman penerimaan mahasiswa baru tahun ini tidak seperti tahun kemarin, tidak perlu repot- repot datang ke kampus atau membeli koran harian untuk mengetahui info diterima atau tidaknya oleh universitas. Zaman sekarang sudah terlalu canggih, cukup dengan membuka halaman media kampus, maka seluruh pengumuman apa pun tertera di dalamnya. Segera kucek satu – persatu nama yang ada di laman penerimaan mahasiswa baru angkatan 2018. Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, sampai satu jam namaku belum juga ditemukan di daftar  mahasiswa baru, “alamat, gila sih, bakal jadi bulan – bulanan seluruh dunia nih kalau gini caranya”, pikirku dengan gundah. Kutarik nafas dengan perlahan agar jantungku tidak berdetak lebih kencang. 

“Gimana ha, diterima dimana lu, jurusan apa?” tanya Lia yang datang dari arah belakang. Aku hanya meliriknya lalu berlalu bergitu saja, “entah lah”. Kali ini nasibku belum baik, aku gagal SBMPTN 2018, mau bagaimana lagi, ya bukan rejekinya. Dengan tidak menunggu waktu lebih lama lagi, akhirnya kuniatkan dalam hati untuk mengikuti seluruh tes penerimaan mahasiswa baru 2018. Walau pun cukup menguras kantong dan pikiran, tapi hanya ini satu – satunya jalan yang mesti kutempuh saat itu. Penerimaan mahasiswa baru yang kuikuti mulai dari PMDK, UMPTKIN, SIMAK UI, MANDIRI, Dll. Tidak hanya itu, aku pun lebih giat lagi mengerjakan soal – soal yang ada, bahkan aku sengaja membeli lebih banyak lagi buku – buku tes penerimaan mahasiswa baru untuk referensi belajar.

 “Ah kuliah” Desisku dalam keheningan. Kubuka jendela dapur agar udara segar masuk kedalam, maklum namanya juga kos kosan, udaranya pengap dan memiliki ciri khas tersendiri, “bau kos kosan”. Kuperhatikan kembali tetangga sebelah, namun sudah tidak ada lagi ocehan dan keluhan yang kudengar dari sana. “Tidur kali ya tuh bocah”. 

Hari begitu cepat berlalu, tidak terasa dengan duduknya aku yang sedang bernostalgia dalam kesendirian telah memakan waktu dengan sia – sia, hingga aku baru sadar, “Astaghfiraall al’adzim, Siang ini kan UAS di e- learning, alamak mampus kali aku ini”. Segera kucek laman E- learning jurusan, kumasukan Nomor Induk Mahasiswa dan kutulis juga sandi yang telah kurubah sebelumnya kedalam kolom (Untuk Mahasiswa). Tanpa menunggu lagi, kucari mata kuliah “Pembelajaran Sastra dan bahasa Indonesia”.

[Mohon maaf, halaman ini sudah tidak menerima File kembali]

Badanku lemas setelah melihat laman e- learning. Segera kututup e learning dengan seksama dan kubuka what app untuk menghubungi dosen yang bersangkutan. 

“Itu bukan urusan saya” Balas seorang dosen setelah kuchatt tentang perihal keterlambatanku dalam UAS. Kutanyakan dan kulobi bapak dosen tersebut dengan hati hati, namun hasilnya nihil, yang ada malah sebaliknya, aku mendapatkan jawaban chatt yang singkat padat namun memabukan, “terlambat satu menit sama dengan satu tahun nong”, Gleeek. 

“Ya Allah aku harus bagaimana lagi”, curhatku dalam setiap sholat. Hanya sholat dan berdo’alah satu satunya jalan yang terbaik untuku saat ini. Karena aku yakin bahwa hanya itulah yang dapat menyembuhkan kegundahan yang kurasakan, hanya Allahlah satu – satunya tempat mengadu ketika semua mahkluk tidak mampu menolong masalah yang sedang dihadapi, dan hanya Allahlah yang mampu membolak balikan hati hambanya walau sekeras apa pun, dan aku sangat berharap bapak dosen yang kumaksud itu suatu hari nanti bisa berubah 180 derajat”.

Matahari sore yang menyorot ke arah dapur kini sudah tenggelam, bertanda bahwa adzan maghrib sebentar lagi dikumandangkan oleh muadzin. Segera kututup jendela dapur dan kulangkahkan kaki menuju kamar, “aku punya masa lalu yang kelam dalam perkuliahan, biarlah ia berlalu dimakan zaman, tidak perlu kusangkut pautkan dengan hari- hari yang kujalani saat ini, karena saat ini aku memiliki masa depan yang perlu kuperjuangkan”. 



 


Sabtu, 04 April 2020

Kembalilah ke Qur'an


Itulah persepsiku ketika pagi- pagi mendapatkan kepala bagian belakang terasa sakit. Entah kenapa sakitnya karena apa, yang pasti aku sangat enggan untuk meminum obat sedikit pun. 

Sebenarnya sakitnya itu dari malam hari. Aku hanya meringis sedikit agar tak diketahui oleh banyak orang. "Mungkin karena kemaren- kemarennya aku sedang halangan kali ya," ucapku dalam hati.

Sedang halangan. Ya tahu sendiri perempuan yang sedang tidak solat dll nya itu menggunakan waktu untuk berleha- leha sedemikian mungkin. Walaupun pesantrenku ketika Aliyah membolehkannya membuka qur'an kalau hanya sekedar untuk murajaah hafalan.
Tapi, tau sendirilah waktu- waktu halangan itu aku habiskan untuk baca novel, nonton, & mendengarkan music sekencang- kencangnya.

Alhasil ya... efeknya aku tanggung sendiri. Sekitar empat hari waktuku hanya diisi baca novel, nonton, dan rebahan. Ditambah lagi Kamarku yang tidak mengandung cahaya matahari menyebabkan seluruh badanku terasa sakit, kepala terasa pusing, hati, apalagi, jangan ditanya.

Dari subuh itulah aku meniatkan diri untuk tidak setoran di pagi hari. "Tilawah aja lah yang banyak, biar sakitnya sembuh dulu," karena biasanya, seperti bulan- bulan sebelumnya, setiap galau, sakit hati, marah, dan teman- temanya. Hanya satu obatnya, "memperbanyak tilwah Al- Qur'an yang pernah dihafal."

pagi itu aku hanya memperbanyak tilawah, walaupun diteriakin untuk setoran, aku hanya tersenyum dan mengambil sikap masa bodo, "nanti aja ya teh, lagi gak mood."

Setelah itu terlihat matahari pagi menyoroti tempat dimana santriwati menghafal Qur'an. "Alhamdulilaaaah ya Allah nemu matahari seger juga," ucapku kala itu.

Dengan izin Allah, sakit kepalaku hilang, badanpun terasa ringan kembali. Alhamdulilah Ya Allah batinku saat itu juga.

"Tilawah Qur'an," dulu aku menyepelekannya. Bagiku, yang penting menghafal, lalu memurajaah qur'an, itu sudah cukup. Ternyata aku keliru.

Enam bulan yang lalu, ada salah satu ustadz  ceramah di salah satu masjid, beliau  mengatakan, "ruhani kita yang sakit itu akan sembuh dengan apa yang pernah kita lakukan. Contohnya, ada orang yang sembuh ruhaninya,setelah membaca dzikir 100 kali, ada juga yang mesti 1000 kali, atau lebih. Namun berbeda dengan orang yang pernah menghafal qur'an. Mau beribu- ribu kali pun membaca dzikir seperti masih ada yang janggal, kalau belum memperbanyak tilawah. Orang yang pernah menghafal quran, tidak bisa hanya tilawah setengah juz, apalagi hanya dua halaman. Ya jika ingin tenang ruhaninya minimal dua juz, dan lebih baik 5 juz setiap harinya, baru itu hatinya akan tentram, adem, nyaman, dan bahagia.

Dari situlah aku sadar, betapa selama ini aku sering menghindar dari qur'an. Dikatakan menghindar karena aku Menghafal asal menghafal, yang penting bisa setoran pada ustadz atau ustadzah. Parah emang, hanya menggugurkan kewajiban doang.

Jangan dicontoh ya....

Di Pondok pesantren Husnul Khotimah, kurang lebih sudah lima juz dari belakang yang kuhafalkan. Diciputat sekitar.... segitulah yang kuhafalkan. Sedangkan disini.... ya segitu. Aku sadar, betapa bodohnya aku ketika hati sedang tidak tentram, minta bantuan pada orang lain, ketika sedang galau, minta dicarikan solusi, padahal dalam diri sendiri sudah ada solusi yang lebih dahsyat, ialah kembali pada Qur'an.

Terima kasih yang sudah membaca hingga akhir. Aku menulis tulisan ini bukan berarti aku sudah benar. Namun tulisan ini hanya sebagai teguran semata untuk diri aku sendiri.

Terima kasih sekali lagi, see you next time.


Sabtu, 28 Maret 2020

Jangan jadi perempuan Gampangan (Tugas RUMAH DUNIA KELAS ONLINE)





Mencintai seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya menjadi fitrah setiap perempuan. Begitu pun dengan Rani, perempuan berusia 25 tahun yang semestinya sudah membina rumah tangga, kini masih sibuk dengan urusan kuliah, kerja, dan karya.


Suatu hari, rani datang pada sahabatnya dengan menunjukan bahwa ia cemas. Laki – laki yang telah memberikan padanya harapan, ternyata hanya kata- kata manis belaka, tanpa nyata. Bagaimana mau nyata, Laki- laki tersebut merupakan suami orang lain yang sudah beranak dua orang.


“Semua Laki – laki sama aja ya ternyata” ungkap Rani pada sahabatnya itu. Namun seperti kata pepatah zaman dulu, nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimana lagi.


Riko ardiana, Nama laki- laki tersebut. Datang memberikan harapan pada perempuan yang tengah mencari pendamping hidup. “Iya nanti dua minggu lagi aku akan datang ke rumah orang tuamu” itu kata- kata manis Riko suatu hari.


Dua minggu kemudian, tidak ada tanda- tanda bahwa seorang laki- laki datang dengan maksud melamar perempuan tersebut. Yang ada malah sebaliknya, di teras rumah Rani berdiri istri Riko dengan mimik geram. “Hey perempuan murahan, ngaca dong, masa pendidikan tinggi, berkarir bagus, masih aja rebut suami orang” ulas istri riko pada rani.


Mau dibawa kemana lagi harga diri rani, dulu ia sebagai orang yang dihormati di kampungnya kini sudah tidak lagi, karena kejadian memalukan tersebut ditonton oleh banyak tetangganya. Setelah itu, cibiran dan hinaan kerap kali datang dari orang – orang sekitarnya, termasuk sepupunya sendiri. Dengan rasa perih, ia melihat kembali bagaimana Laki- laki itu datang ke kehidupannya, dalam tiga bulan telah  meraup semua tabungan miliknya, ketika ditanya mau menikahinya kapan, bukan balasan manis yang ia dapatkan, tapi malapetaka besar yang menimpanya.


“Makanya jadi perempuan jangan murahan, lihat dulu siapa laki- laki itu, jangan asal comot, lalu percaya” nasihat ibunya detik itu juga. Rani hanya diam, lalu ia mengambil ibrah dari  apa yang telah ia hadapi sore itu.

Senin, 24 Februari 2020

Pencurian di sekolah bunga (Cerpen)




“Kamu harus tahu bahwa tak semua orang mampu terdeteksi isi pikirnya, bisa jadi seseorang yang dekat denganmu lebih tamak dan rakus dibandingkan dengan seseorang yang kau curigai keburukan tingkah lakunya”.
Quotes tersebut sengaja kutulis ketika setelah pulang dari ruang kepala sekolah pada senin sore. kehilangan barang- barang berharga atau pun beberapa kepingan rupiah kadang hadir dimana saja dan kapan saja tanpa diduga. Pencurian datang dengan kesempatan yang tepat, kesempatan itu bisa jadi karena sipelaku sedang kepepet tidak ada uang dan bisa juga sikorban yang asal taruh uang tanpa pikir orang lain tidak tergiur dengan kepemilikannya tersebut.

“Hati- hati aja, kaka percaya sama Bunga, jaga Sekolah dengan baik” Itu Suara ka Lina saat memulai percakapan tadi siang  tanpa diduga sebelumnya. Bunga Pertiwi yang tidak tahu apa- apa segera menanyakan apa maksud ucapan dari lawan bicaranya itu. “Maksudnya kak?” tanyanya tidak mengerti. Ka Lina yang diberi amanah oleh sekolah sebagai pembina pramuka segera mendekat ke arah Bunga.

“Kamu ingat Lima hari yang lalu saat kepala sekolah mengumpulkan anggota kelasmu yang disuruh menulis apa saja yang pernah diambil masing-masing dari kalian  di dalam kelas?” tanya ka Lina dengan suara yang sedikit dipelankan. Bunga yang saat itu sudah lelah karena aktifitas disekolah yang padat segera mengingat kembali tentang lima hari kebelakang.
“Iya kak, Bunga ingat” ucap bunga seraya membenarkan posisi duduknya. Di sekolah Menengah Atas  (SMA) Samudra 28 Indonesia, kehilangan sedang marak- maraknya, apalagi di kelas Bunga pertiwi, kelas 11 IPA 4, kehilangan nyaris setiap hari. Mulai dari kehilangan Uang yang jumlahnya lumayan banyak, ada juga kehilangan barang- barang tertentu milik siswa maupun guru, baik itu Hand phone yang disimpan di rak penyimpanan Utama, alat tulis, kaos olah raga yang disimpan di dalam tas, bahkan kehilangan sepeda motor. Miris memang, tapi itu semua masih menjadi misteri tentang siapa yang mengambilnya, tidak sedikit yang mengaggap bahwa kehilangan tersebut disebabkan dari makhluk halus, ada yang beranggapan juga bahwa pencurian itu berasal dari orang luar sekolah, dan ada juga yang berpendapat bahwa sipencuri tersebut  ialah orang dalam yang ada dilingkungan sekolah.

“Bukan tuyul Bunga, yang mengambil itu ya orang- orang situ aja” tandas ka Lina setelah beberapa kali Bunga tidak percaya dengan apa yang ka Lina ucapkan padanya. Ka Lina bahkan menegaskan bahwa yang menjadi pelaku pencurian tersebut bukanlah hanya satu orang, bahkan lebih dari Empat orang. Mendengar hal itu Bunga hanya menelan ludah, tak disangka beberapa dari teman dekatnya menjadi si pelaku dalam korban yang menjadi pembicaraan hangat disekolahnya akhir- akhir ini.
“Ya intinya hati- hati aja ya Bunga, tidak semua orang yang kelihatan diluarnya baik  itu aslinya baik, bisa jadi yang terlihat diluarnya seperti preman malah berhati malaikat” jelas Ka Lina menegaskan perkataannya kembali. Bunga lalu balik bertanya tentang hal tersebut pada kaka pembina pramukanya itu, “Lalu kaka tahu siapa saja yang menjadi pelaku pencurian itu?”. ka Lina tersenyum mendengar pertanyaan yang barusan Bunga tanyakan padanya, “iya kaka tahu semuanya”.

“Dari mana kaka tahu si pelakunya itu mereka?” tanya Bunga setelah ia mengetahuan siapa saja yang menjadi dalang dibalik peristiwa yang memalukan tersebut. Kak lina berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan perlahan menuju ke arah pintu ruang OSIS, “Kaka tahu dari kertas yang kalian tulis lima hari yang lalu di ruang kepala sekolah”.
bunga memejamkan matanya, hatinya bergemuruh tidak karuan, lalu ia menatap ke arah  ka lina yang ada disampingnya. keduanya saling menatap satu sama lainnya, setelah beberapa menit Bunga pun pamit dari hadapan kak Lina. Sore itu ia sadar bahwa menilai seseorang itu bukanlah dari penampilan luar saja, ia lalu bergumam dalam hatinya, “akankah aku mampu merubah teman- temanku yang terbiasa mencuri menjadi manusia yang dirindukan Syurga?” pertanyaan tersebut ia tanam dalam hatinya guna untuk merubah teman temannya dan untuk peringatan pada dirinya sendiri agar terhindar dari sifat dan perbuatan yang dibenci oleh Allah SAW.

Sabtu, 01 Februari 2020

Disinilah awal Aku memulai segalanya



sore hari dikejutkan dengan suara telphone dari sebrang kota. kata ibu, paman yang kedua dari terakhir sudah siap mengantarkanku untuk tes masuk dunia pesantren, hari ini hari sabtu, hari dimana aku sedang libur sekolah, sudah dipastikan bukan berarti sekolahku benar- benar libur, tapi aku yang meliburkannya sendiri. Dengan perlengkapan seadanya, aku dan Abah berangkat sangat pagi pada keesokan harinya.

“Oweeek” aku muntah untuk kedua kalinya, entah kenapa setiap perjalanan suhu badanku seperti menolak untuk duduk manis di dalam kendaraan umum. Abah yang ada disampingku segera menyodorkan plastik hitam kedekat mulutku, “oweeek”.

“Masih jauh ya?” tanyaku pada Abah. Padahal aku hendak tes kesuatu pesantren yang tidak jauh dari kabupaten pandeglang, sekitar tiga jam pesantren yang hendak kutuju jaraknya dengan rumah. Namanya juga anak kampung yang jarang sekali bepergian dengan kendaraan, maklum saja setiap kali perjalanan menggunakan kendaraan aku selalu mabuk perjalanan.

Sobang- Panimbang- labuan- menes-  sodong- saketi- Cikaduen- mengger. Itulah perjalanan yang kulalui kira- kira begitu rutenya, di mengger kita berdua turun untuk ganti kendaraan umum lainnya, yaitu harus menaiki angkot jurusan mengger- pari. Namun, saat dimengger kulihat kaka keduaku menampakan batang hidungnya, “baru nyampe?” tanyanya sembari mengecup tangan kanan Abah. “Mana ka jumannya?” tanya Abah kemudian pada kaka. Sekitar lima menit kami bertiga menunggu Paman akhirnya datang juga. Itu Pamanku, adik keenam dari ibu yang kupanggil dengan sebutan kaka saja bukan dengan sebutan paman. Entah kenapa Aku pun tidak faham, hanya saja sampai sekarang aku mendefinisikannya “mungkin karena pamanku yang satu ini umurnya sama persis dengan kakaku yang pertama”.

“kita bertiga duluan aja ke pari” ucap paman pada aku dan kaka. Sedangkan Abahku menunggu giliran untuk dijemput kembali oleh paman.

Tidak lama dari keberangkatan kami bertiga, Abahku panik, karena ada kecelakaan pengendara sepeda motor dengan mobil. ia segera melihat ketempat kecelakaan tersebut yang tidak jauh dari tempatnya berteduh. Satu persatu manusia yang mengelilingi orang yang terkena musibah itu disingkirkannya dengan sigab, “apa yang kecelakaan mereka bertiga?” tanya Abah dalam hati. Perasaan was- was ditambah lagi campur aduk bersatu menjadi klop. Setelah dilihat dengan seksama, barulah Abah keluar  dari kerumunan banyak orang dengan mengucapkan syukur tiada henti, “Alhamdulilah bukan mereka bertiga”.

Sesampainya di pari, tepatnya di pesantren modern daar el falaah, aku duduk manis menikmati banyak soal yang sebenarnya tidak tahu  soal itu harus kuapakan. Yang terpenting selesai, tekadku saat itu. Dan itu terbukti dengan hasil pengumukan kelulusan masuk pesantren saat diumumkan.

“tunggu sebentar ya untuk melihat hasil tesnya” tiba- tiba suara panitia membuyarkan lamunanku.

“Naha bisa langsung tau gitu ya hasil tesnya, aneh” tandasku spontan.

Kulihat tabel nilai di secarcik kertas yang panitia berikan pada amplop coklat. 6.62, kira- kira segitu nilai tes masuk pesantrenku waktu SMP. Angka yang terbilang sangat rendah, tapi angka tersebut sudah termasuk cukup untuk diterimanya seorang AKU di pesantren Modern Daar el Falaah, mandalawangi pandeglang Banten.

“Kita sekarang Lihat Pesantren Putrinya ya di daerah bangkong” kata paman membuatku bingung dengan perkataannya yang barusan diucapkan.

“Di daerah pari Ini Pesantrennya untuk Putra”, katanya lagi menjelaskan padaku. Aku hanya mengiyakan saja yang barusan paman jelaskan, sekitar 1 KM kami pun akhirnya sampai di tempat Putri, kulihat sekeliling Pesantren, sangat berbeda arsitektur bangunan Putra dan Putri yang barusan aku lihat, “Ini serius nih pesantren yang akan aku tempati” kataku dalam hati.

Disinilah, Pesantren Modern Daar el Falaah Putri, yang terletak di Bangkong, Mandalawangi, Pandeglang, Banten. Disinilah Awal aku memulai segalanya.

Minggu, 26 Januari 2020

Cerita Anak Kampung


Hari ini jam 07 - 00 pagi hari, ustadz tidak biasanya mempersilahkan santriwati pulang lebih cepat, karena biasanya tidak demikian. kegiatan liburan kuliah ini di isi dengan Dauroh menghafal Qur’an full sebulan, dari mulai subuh hingga jam 09 – 00 pagi di isi dengan setoran ziadah, setelah itu istirahat untuk mandi, makan pagi, piket, dan sebagainya sampai jam 11 – 00. Jam 11 – 00 hingga jam 13 – 00 di isi dengan tilawah Al – Qur’an, setelah itu istirahat hingga Ashar. Ba’da Ashar kegiatan kami yaitu memurajaah hafalan yang di punya hingga jam setengah enam sore. Solat maghrib & Isya berjamaah di masjid, setelah isya lanjut untuk setoran ziadah hingga jam 22 – 00.
“katanya sih kumpulan sama gubernur gitu”.
 “Ngapain kita rapat sama gubernur?”.
“Kita kan santri, kamu gak tau santri itu sangat berperan penting dalam kemerdekaan indonesia, santri gak bisa diremehkan gitu dong”.
“Selow aja sih gak usah nyolot”.
 “Lagian, hidup di pesantren trus dari kecil, kaya anti banget denger nama santri naik drajatnya, huuuuh”.
Percakapan pagi ini tidak karuan, antara menebak- nebak perintah ustadz yang harus sudah siap jam 07- 00 pagi hari di depan gerbang Citra Land dan percakapan tentang kehaluan santri yang kadang merajalela.
“mungkin kita di ajak refresing dulu kali ya, heheehehehe”. Ungkap salah satu dari santriwati yang sedang berjalan ke arah bis.


Di dalam bis, jumlah santriwati sudah banyak yang duduk di kursi bis, aku dan teman- teman pondok enam sampai bingung harus duduk dimana. Tanpa ba bi bu, akhirnya kami bersepuluh berdiri dari awal perjalanan hingga tujuan yang akan dituju.
“ke KP3B doang kok guys gak perlu panik takut pingsan”, ucapku ke arah teman- teman yang sama berdiri sepertiku. Karena kami yang biasa terlatih julid satu sama lainnya mereka membalas perkataanku dengan santainya, “siapa sih yang suka pingsan di kRL atau Busway kalau berdiri sepanjang perjalanan, sory sory ya kagak pernah”.
Perjalanan citra land puri indah serang – KP3B (Kawasan Pusat Pemerintah Provinsi banten) berjalan lancar, tidak seperti biasanya macet totaaaal, dan macet tersebut biasa aku lalui setiap hari jika hendak pergi ke kampus. Kebetulan tempat kuliahku searah dengan KP3B tersebut.
“lihat geh lihat kampus siapa woy itu yang gersangnya parah banget”, tiba- tiba muncul suara tersebut dari arah belakangku. “huuuh, sabar ya Allah sabar”, kataku sambil mengelus hati seraya tertawa. Kampus tarbiyah UIN Banten, kampus baru yang terletak di palima, katanya sih tahun 2020 akan dipindahkan semua Mahasiswa UIN Banten ke lahan yang masih gersang tersebut. tapi nyatanya, bangunan pun dari hari ke hari tidak pernah bertambah satu pun, hehehe.


 Setelah turun dari bis, kulihat banyak sekali santri dari berbagai daerah, santri tersebut khusus sengaja di undang ke gedung ini, gedung Gubernur banten. Satu persatu kami berjalan masuk ke dalam gedung tersebut, kulihat tulisan besar di depan mata “Rapat forum Silaturahmi santri 2020”, sepenting inikah santri Baiturohim di undang pagi ini.
“eh lihat geh sebelah kanan, ada Gubernur wey”.
“Mana? Mana? Mana wooy?”
“ituuuuu looooh”
Pak wahidin Halim, beliau maju ke depan dan memberikan sambutan sekaligus laporan tentang pembangunan kawasan di seluruh provinsi yang ada di Banten, beliau mengatakan bahwa apabila ada pembangunan atau jalan yang masih tidak layak di pakai untuk segera melapotkannya langsung ke beliau. Saat itu juga salah satu teman pondokku memberikan pesan chat melalui what app, “teh, lapor sana, jalan Kacapi masih jelek kan, lumayan loh nanti kondangan ke teteh udah bagus jalanannya”. Aku hanya membalasnya “gak ada photo nya weey gimana, coba aja ada photo sebagai buktinya”.
Jalanan di desaku bisa dikatakan memang sangat rusak, sejak dulu sampai sekarang belum pernah di aspal seperti jalanan yang biasa aku lalui di berbagai daerah di indonesia. Bahkan, kemarin saat aku Trip ke peloksoknya lebak, jalanan desaku masih kalah saingnya, jauuuh kalahnya.
“kalian belum pernah kan sekolah nyeker plus ngadepin lumpur selutut anak SD” kataku memulai percakapan saat acara pembukaan rapat selesai. Semua temanku hanya mendengarkan perkataanku, perkataan yang tidak dibuat- buat, ini real pernah aku rasakan saat kecil dulu. Pergi ke sekolah sekitar 2 kilometer dari rumah, dulu belum ada sekolah yang dekat dengan rumahku, jadi terpaksa setiap pagi harus berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh. Setiap musim penghujan, aku biasa membawa sepatuku di dalam tas, sedangkan kakiku dibiarkan telanjang kaki tanpa alas apapun, resikonya hanya ada dua, jika jalanan penuh lumpur kaki akan kotor, lebih parah lagi jika jalanan penuh dengan bebatuan dan tanah licin, kaki bukan hanya kotor saja tapi bisa luka jika belum biasa berjalan di kondisi tersebut, untungnya kakiku sepertinya sudah kebal dengan kondisi yang seperti itu.
“trus pakai sepatunya dimana?” tanya salah satu teman yang ada di sampingku.
“yaaa pas udah datang ke sekolah atuh” jawabku dengan tanpa sadar logat sundaku keluar.
“maksudnya?” tanya vani tidak faham.
“O iya ya, jadi gini, kan setiap penghujan sepatu aku kan di masukan ke dalam tas, saat datang ke sekolah ya kita cuci kaki di pinggiran sekolah, kebetulan di pinggiran sekolahku ada kubangan air yang lumayan besar, disitulah kita cuci kaki plus pakai sepatu masing- masing” jelasku pada mereka.

Menjadi anak yang dilahirkan di kampung memang memiliki cerita unik tersendiri, berangkat dan pulang ke sekolah sudah terbiasa dengan jalan kaki yang bukan hanya jarak saja yang jauh, melainkan akses menuju ke sekolah pun bisa dibilang sulit pada masa itu. Kadang kala aku dan teman- teman se kelas yang berasal dari kampungku mengendarai sepeda motor ditumpuk ber lima dengan yang mengendarainya, hari ini pulang sekolah dijemput oleh Abahku, esok hari dijemput oleh Ayahnya Ica Purnama sari, lusa dijemput oleh Ayahnya sarinah, dan esoknya lagi dijemput oleh ayahnya Hamdah. Gitu dan gitu setiap harinya. Kalau tidak ada yang menjemput dari orang tua kami beempat, ya jalan kaki bareng, walau jalan kaki saat pulang ke rumah menyebabkan lebih lambat untuk sampainya, karena dijalanan kami asik bermain, mengobrol, dan drama- dramaan ala sinetron tahun 2000 an.
“mang ikut mang”
“mang stop mang”
“satu dua tiga”
Semua siswa –siswi berjejer rapi di tengah jalan saat ada mobil truk pengangkut kayu yang hendak melintas ke kampung halamanku, supir truk itu pun sudah hafal apa yang ia harus lakukan, berhenti lalu turun dan membukakan penutup belakang truk.
“pulang marilah pulang, pulang bersama- sama, mari pulang marilah pulang marilah pulang bersama- sama”.
Dan Itulah salah satu kebiasan yang dilakukan kami anak kampung saat pulang sekolah dan kebetulan musim penebangan kayu sedang gencar- gencarnya dilakukan, itu dia memberhentikan truk yang hendak ke kebun kayu tersebut. Satu truk bisa penuh diisi oleh anak – anak sekolah dasar, mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam. 
“gile sih ekstim juga ya si oha” suara bela tiba- tiba merespon curhatan panjangku tentang hidup yang dibesarkan dikampung yang sampai sekarang bisa dibilang masih ketinggalan jaman. Bagaimana tidak ketinggalan jaman, listrik saja di kampungku baru ada saat aku kelas empat sekolah dasar, kalau masalah jalan? Masih sama seperti dulu, hanya saja tidak lebih parah dari jaman saat aku sekolah dasar. Dulu berlumpur, terjal, dan susah untuk sekedar melintas pun. sekarang lebih mending, walau pun masih berbatu, dan masih ada kubangan di tengah jalan di beberapa titik jalan raya.
“Kok bisa sih masih jelek, emang pemerintahan setempatnya  kagak ada?” tanya gina tiba- tiba.
“Ya ada lah masa kagak ada” jawabku santai.
“Kok masih jelek aja sih, ini kan 2020” ucap tama sembari memegang botol minumnya. 
“iya juga ya kalau dipikir- pikir mah” jawabku pelan.
Perkataan tama barusan menyadarkanku tentang laporan Gubernur banten, bapak Wahidin Halim yang menampilkan beberapa slide tentang pembangunan dan juga beberapa akses jalan raya di provinsi Banten, dalam slide tersebut tergambar beberapa jalan raya yang dulunya tidak layak menjadi bagus dan rapi, begitu pun dengan bangunan, seperti rumah sakit, sekolahan, masjid semuanya terlihat jelas oleh mataku sendiri. disana dijelaskan yang dibangun itu di titik daerah yang ada di Serang, Anyer, Lebak, Tanggerang, dan Pandeglang.
“Trus kenapa akses jalan raya di desaku masih begitu- begitu aja ya” tanyaku pada diri sendiri.
“Apa mungkin menunggu antrian dengan desa lain yang ada di kecamatan, atau .....” tanyaku dalam hati seraya terus menikmati pemandangan pulang dari arah KP3B menuju pesantren Al- Qur’an Baiturohim, serang Banten.

Semoga kita semua Amanah dalam menjalankan tugas mulianya masing- masing, pelajar bertanggung jawab dalam proses belajarnya, guru bertanggung jawab dalam mencerdaskan anak bangsa dan etika maupun moralnya, petani bertanggung jawab dengan lahan tanaman yang diberikan tuhan padanya, dokter bertanggung jawab atas pasien yang membutuhkan kesembuhan, dan pemerintah bertanggung jawab atas tugasnya sebagai pelayan rakyat. 
Terima kasih semua.
See you next time.... 






Kamis, 14 November 2019

Kepergian Abah

Foto : Abah & Ibu saat melaksanakan Haji tahun 2015

Malam hari suasana sepi dan tidak ada satupun suara yang terdengar oleh telinga. Kupejamkan mata, namun sulit untuk melakukannya. “insomnia”, hal yang biasa terjadi pada diriku yang terbalik suhu “ngantuknya”, siang hari ngantuk, dan malam hari terbangun bahkan susah untuk tidur walaupun dipaksakan.
“Astaghfirullah”
Suara hatiku biasa mengucapkan kata tersebut, ya... bagaimana tidak mengucapkannya, karena setiap mencoba untuk tidur, bayangan wajah abah terbayang terus- menerus. Apalagi senyum wajahnya saat dimandikan terakhir kali terbayang jelas olehku sendiri. kebetulan, saat memandikan jasad abah, aku pun ikut serta memandikannya “tepatnya di antara pusar dan lutut” bagian tubuh abah. Selain itu, yang terbayang setiap hendak tidur ialah saat terakhir kali dokter mencabut peralatan yang menempel ditubuh abah. Saat itu aku baru selesai  solat subuh yang kesiangan karena malamnya begadang sampai jam setengan empat dini hari. “kenapa dokter mencabut oksigen yang abah gunakan”, pikirku saat itu. “loh kok dada abah ditekan- tekan, kenapa sih, ada yang salah”, tanyaku pada diri sendiri saat itu juga. Dan aku baru sadar saat mendekat ke wajah abah, dan dokter membisikan ke telingaku “talkinin”. Selang beberapa menit kaka keduaku datang, ia segera meraba tubuh abah, “masih hidup kok” katanya seperti tidak nyakin dengan keadaan yang demikian. Setelah benar- benar abah tiada, aku bergumam, “seriusan nih udah meninggal, apa Cuma bercanda doang sih dokter”.
Didalam ruangan rumah sakit yang abah tempati, yaitu dirumah sakit Ajidarmo, rangkas bitung, lebak,banten, suasana berubah menjadi sepi. Bukan berarti suasananya sepi, namun perasaanku sendiri yang sepi. “jangan nangis, aku bukan anak yang biasa nangis didepan abah”, gumamku dalam hati. Kulihat keluargaku, tidak ada seorang pun yang hadir diruangan itu, hanya aku yang berdiri kaku di depan jasad abah.
“Mana kaka Hafidz” kataku seraya menengok ke sekeliling ruangan rumah sakit.
“Ibu juga gak ada lagi” ucapku kemudian, namun hanya dalam hati.
Agar tidak bingung dan tidak tau harus berbuat apa diruangan yang hanya ada aku dan jasad abah, ku ambil Qur’an syamil milik ibu,
“yasiiiiiiin”
“wal Qur’anil Hakim”
“Ya Allah, aku bukan lagi mengaji didepan abah yang sedang sakit, ini jasad abah, inget ha.... INI JASAD ABAH” kata hati kecilku yang terus mengaji walaupun sedikit demi sedikit air mata jatuh dari sisi kedua kelopak mata.
“Jangan nangis” suara ibu tiba- tiba muncul dibelakang punggungku. Kulihat wajah ibu, seperti banyak beban yang tersirat diwajahnya, lalu ibu membisikan ditelinga kananku, “ikhlaskan aja abahmah, tenang biaya kuliahmah ada ibu”.
Ibu selalu berpesan pada siapapun, jika sedang menghadapi mayat, jangan coba- coba nangis apalagi sampai histeris. Entahlah apa akibatnya jika seseorang nangis didepan mayat yang dihadapinya.

                               Foto : Rumah Sakit Ajidarmo, Rangkasbitung, lebak, banten.


Abah, ya kepergian abah tepatnya saat orang- orang asik merayakan tahun baru islam, 1 muharram 1441 H. Kalau kata orang yang tidak tau sejarahnya, “gak nyangka ya meninggal”, entahlah kenapa orang lain mendefinisikannya begitu. Tapi bagiku, kepergian abah merupakan hal yang sangat membekas di ingatanku, satu tahun ibu berjuang merawat abah dari bangun tidur sampai bangun tidur lagi. Siang dan malam tidak pernah lelah ibu merawat abah seorang diri di rumah, dan kadang ditemani adik- adik ibu yang rumahnya masih dekat dengan rumahku, dan sering juga ditemani kaka pertamaku yang tinggal satu kampung.
“Pokoknya jangan dirawat di serang lagi”, ucap kaka pertamaku pada ibu saat abah hendak dirawat pasca tubuhnya susah untuk digerakan.
“kenapa emang gak boleh di serang”, tanyaku hati hati pada Ati( panggilan untuk kaka pertamaku). Ia hanya diam tidak menyahut pertanyaanku, seperti ada trauma pada gerak- geriknya.
“ya sudahlah”, kataku kemudian.
“padahal enak ya kalau diserang, aku paginya bisa jagain abah, lalu setelah dzuhur bisa berangkat ke kampus”, ucapku dalam hati.
Kampus – Rumah sakit, dulu saat pertama aku duduk dibangku kuliah yang sekarang kutempati, aku selalu bolak balik antara rumah sakit dan kampus, karena saat itu, abah dirawat di rumah sakit selama dua minggu lebih. Pagi hari Berangkat dari rumah sakit ke kampus, pulang dari kampus ke rumah tante untuk mencuci baju abah + keluarga yang jagain abah, lalu setelah itu pergi ke rumah sakit lagi sampai esok pagi, gitu dan gitu.  Sampai saat ada tugas kelompok pun, aku mengerjakannya dirumah sakit, “bagi aja ya tugasnya, besok kita satuin” itu yang sering kulobi pada teman yang sekelompok denganku, makasih ya kalian.
“kenapa sih teteh kalau pulang kuliah  langsung cepet- cepet pengen pulang aja, gak pernah ngobrol atau ngongkrong dulu sama yang lainnya”, tanya salah satu teman kelasku saat aku menjadi mahasiswa baru.
“gak kenapa- napa, aku gak suka nongkrong orangnya”, jawabku bohong padanya. Kalau dipikir- pikir perkatanku barusan, sangat bohong, karena sejatinya aku sangat menyukai gosip, nongkrong, dan kumpul dengan teman- teman lainnya. Tapi apalah kondisi saat itu tidak membolehkannya.

Foto : Ambulans yang membawa Abah ke rumah


Sakit, semua orang pasti merasakan sakit. Entah sakit apapun itu, bahkan sakit hati pun semua orang pernah merasakannya. Sama seperti istilah “ditinggalkan dan meninggalkan”, kalau kita tidak meninggalkan orang yang dicinta, kita sendiri yang akan ditinggalkannya, walaupun aku tidak suka kedua- duanya.
“udah bah jangan diberat- beratkan, kalau mau pergi mah pergi aja, tenang Rohati mah tanggung jawab saya”.
“maafin saya ya bah kalau ada salah, maafin saya”
Kuputar badanku saat kudengar perkataan  kaka pertama didepan tubuh abah yang tidak berdaya, “huuh huuh huuh huuh”, hanya suara nafas sesak yang keluar dari diri abah. Tidak ada perkataan sedikitpun, bahkan reaksi wajahnya saat mendengar ucapan kaka pertamaku hanya diam dan sedikit mengeluarkan air mata di kedua kelopak matanya.
“O iya aku lupa, aku ini perempuan, nanti kalau abah gak ada, wali hidupku bukan abah lagi, melainkan kedua  kakaku”, kataku dalam hati seraya mencegah air mata yang sudah tidak kuat lagi kubendung.
“Nasib anak bungsu gini ya”, gerutuku dalam hati, namun kemudian kutepis pikiran jelek tersebut untuk tidak dijadikan keluhan yang mengakibatkan diri ini tidak bersyukur pada Allah atas semua nikmat dan karunianya.
“Jagain dulu ya bentar, ngaji aja nih disini”, ucap kaka pertamaku seraya mempersilahkan aku untuk duduk dikursi yang baru saja ia duduki.
“ngaji aja di telinganya”, lanjutnya menyarankan padaku, kuatur posisi duduk seenak mungkin agar tidak terasa pegal dan juga bosan. Saat mengaji, kuperhatikan wajah abah, tidak berdaya, benar- benar tidak berdaya. “jadi ini ya laki- laki pertama yang menemuiku saat membuka mata pertama kali  didunia, sekarang beliau tidak berdaya dan juga tidak mampu apa- apa”, ucapku sambil terus memperhatikan wajah abah.
Abah, atau kalian memanggilnya berbeda denganku, Bapak, Ayah, Abi, Baba, Papa,papah, mama, Dady, Papih, atau apa pun itu panggilannya, yang pasti seorang Ayah itu dimata anak perempuannya  ialah seorang laki- laki yang cintanya tulus tanpa terhalang oleh apapun. Cinta seorang Ayah merupakan cinta yang tidak dikeluarkan melalui kata- kata, namun disalurkan oleh logika.
Didalam rumah sakit ini, sudah dua hari abah berada disini, jumat dan sabtu. berbeda denganku dan juga kakaku yang kedua dan juga istrinya, aku dan kaka kedua baru seharian berada ditempat ini, maklum aku sebagai anak kuliahan yang harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu dari senin sampai jumat, sedangkan kakaku seorang guru yang juga harus sibuk dengan tugasnya dari senin sampai sabtu.
“Mau sampai kapan di rumahnya” tanya kakak padaku  saat jenazah Abah hendak dimasukan ke dalam Ambulans.
“Seminggu kayaknya”, jawabku datar.
Hari ini hari minggu, dimana hari ini Abah menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Setelah selesai administrasi pada dokter dan meminta surat keterangan meninggal, jenazah Abah didorong dan dimasukannya ke dalam Ambulans.
“Ibu ikut mobil siapa ya”, tanya ibu seperti orang kebingungan.
“Ibu ikut Ambulans aja bareng Ati, Paman dari ibu, & paman dari Abah” saranku padanya.
“Trus yang nemenin Kaka Hafidz siapa” tanya ibu kemudian.
“Udah kita berdua juga InSya Allah aman bu” ucapku menyakinkannya.
Di dalam perjalanan, sebisa mungkin aku terlihat baik- baik saja, padahal sebenarnya aku merasakan rasa takut dan adanya rasa  khawatir pada kakak karena takut tidak fokus saat mengendara.
“Oha jangan lupa  temenin Aa Hafidz ya” itu saran kaka iparku yang kedua dibalik pesan What app. Segera kubalas pesannya agar tidak ada  kekhawatiran yang berlebihan. “bilangin ke Aa Hafidz, kita juga berangkat sekarang dari cilegon”katanya lagi setelah  sepuluh menit berlalu pesan yang kubalas diterima olehnya..
 “SELAMAT DATANG DIKOTA PANDEGLANG” plang besar terlihat olehku tanpa terasa, saat itu pun segera kuchat teman – teman kampusku bahwa aku tidak akan masuk perkuliahan selama seminggu, “punya nomor semua dosen semester ini gak?” tanyaku pada mereka. Satu persatu teman kampusku yang menyimpan nomor Dosen segera mengirimkannya.  Setelah itu, kuperiksa pesan lain  yang masuk pada what app milikku dan juga pada what app yang ada di hand phone kakak.
“nyantai aja kak”, pintaku pada kaka. Biasanya, saat perjalanan berdua dengan kaka, aku selalu mendengarkan lagu- lagu hits yang di Cover ke versi Islaminya, namun kali ini tidak mendengarkan music- music apapun, bahkan murotal pun enggan aku mendengarnya.
“Awas tuh kakek kakek mau nyebrang”, kataku mengingatkan kaka. Kali ini mataku hanya fokus ke depan agar perjalanan baik- baik saja.
“wadaw, nyantai aja kak”
“dianya yang salah  main serobot aja tuh”
“hadeh dasar ibu – ibu ya kalau mengendara”
“Awas tuh didepan ada lubang”
Dari perjalanan rangkasbitung – Sobang, pandeglang, mataku hanya fokus ke depan dan mulutku siap mengingatan kaka saat ada apapun itu yang menggganggu perjalanan kami berdua. Saat perjalanan hendak sampai ke rumah, Hand phoneku selalu bergetar, “udah sampe mana?” tanya kaka pertamaku di balik pesan suara.
“sampe SD, kenapa emang?”
“enggak kenapa- kenapa. Yaudah pelan- pelan aja bawa mobilnya”
Beberapa menit kemudian kaka pertamaku menelphone kembali, “sampe mana nih sekarang?”
“gak tau ini sampe mana, sukarendah kayaknya”
“owh, yaudah hati hati ya, pelan- pelan aja bawa mobilnya”, katanya mengingatkanku dan kaka.
“Yaudah tanya coba emang ada apa gitu?” ucap kaka keduaku saat ada telphone ke delapan kalinya dari kaka pertama.
“Enggak kenapa- kenapa, nungguin aja soalnya Abah mau di mandiin”, jawabnya pelan.
“yaudah mandiin aja gitu duluan”, jawab kaka keduaku pada Ati (kaka pertama).

Foto: jenazah Abah saat hendak diantarkan ke tempat peristirahan terakhirnya.


Jalanan sake – kacapi, sekitar 10 km masih sangat rusak, jalanan berlubang mengganggu pengendara yang lewat, apalagi jika pengendara tersebut belum hafal dengan rute jalannya.
“kapan ya jalan kita di Aspal?” ucapku memulai percakapan kembali dengan kakak.
“Dari sebelum SD sampai sekarang pun belum maju- maju ini jalan” kataku meneruskan perkataan.
“mending sekarang mah, dulumah jalannya penuh lumpur hampir selutut orang dewasa” katanya padaku.
Percakapan demi percakapan tidak terasa berjalan dengan lancar, sampai tidak terasa mobil yang aku naiki sampai didepan rumah.
“Busyet banyak banget ini orang, TUMBEN”, gumamku dalam hati. Setelah mobil diparkirkan didepan rumah tetangga, kucoba turun hati- hati dari mobil, spontan semua orang yang ada didepan rumah melihat ke arahku semuanya.
“Assalamu’alaikum” ucapku pada semua orang yang hadir dirumahku.
“Walaikumsalam” Semuanya serempak menjawab salam.
“Aduh lewat mana ya bingung” kataku dalam hati seraya mencoba  masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tengah, kulihat banyak santrinya Bibi sedang mengaji di depan jasad abah.
“Udah dimandiin belum bu?” tanyaku pada ibu.
“Belum” jawab ibu.
“Pokoknya Rohati harus ikut mandiin ya, harus mandiinnya dibagian “antara pusar dan lutut”, jangan lupa” kata ibu kepadaku.
“kenapa harus dibagian itu bu” tanyaku tidak faham dengan apa yang ibu ucapkan.
“Pokoknya harus, entar juga tau sendiri” jawab ibu menyakinkan.
Ternyata, entah mitos atau apa itu, aku tidak mengerti, “yang memandikan jasad orang tuanya tepatnya di bagian “antara pusar dan lutut” rezekinya dimudahkan”, entahlah, kurasa itu hanya mitos belaka. Namun saat itu aku mengiyakan saran ibu, karena bagaimana pun ini kan yang meninggal Abahku sendiri, dan aku yang menjadi seorang anak kewajibannya untuk mengurus jasadnya yang hendak dimandikan sampai diantar ke liang lahat.
Kulihat beberapa orang yang hendak memandikan jasad Abah, semuanya masih sanak saudara Abah, adik perempuannya, adik laki- lakinya,  keponakannya atau sepupuku sendiri, dan kedua kakaku juga hadir serta. “hanya satu orang yang bukan dari sanak keluarga”.
Adik perempuan terakhir Abah yang mengurusi bagian kepala, kakak- kakaku yang membersihkan bagian badan Abah, dan aku yang “Khusus” membersihkan bagian antara pusar dan lutut, serta saudara Abah yang lainnya bagian lutut sampai  kaki.
“Cuci muka dulu”, sergah adik terakhir abah padaku saat aku hendak keluar dari tempat memandikan jasad Abah . Aku yang memang belum pernah memandikan mayat sebelumnya hanya nurut saja apa yang bibiku perintahkan, walaupun dalam hati kecilku bertanya- tanya, “emang kenapa ya harus cuci muka dulu”.
“Kita sekarang cuci pakaian dan kain bekas Abah di rumah sakit ya” Bibi yang paling bungsu menariku kembali ke tempat pemandian jasad Abah.
Setelah selesai mencuci dan membereskan pakaian yang semula dipakai Abah saat sakit, aku diajak kembali oleh Bibi untuk ikut mengkafani Abah. Saat mengkafani, aku hanya memperhatikan kaka kakaku dan saudaraku saja, namun saudaraku yang lainnya mengajaku untuk ikut serta mengkafaninya.
“Kita bedakin ya” ucapnya padaku.
“siap” jawabku pelan.
Seumur- umur aku hidup 22 tahun didunia, baru pertama kali memandikan mayat dan juga mengkafaninya, walaupun di pondok Aliyah dulu diajari prakteknya, namun saat pelaksanaannya aku merasa menjadi seseorang yang masih awam tentang dunia memandikan dan mengkafani mayat.
“Gini ya ternyata mengurusi mayat”, gumamku pelan saat jenazah Abah telah selesai dikafani dan hendak disolatkan. Lalu aku berjalan ke arah dapur, disana terlihat beberapa piring yang sudah terisi makanan dan juga lauk pauk yang hendak dibagikan pada masyarakat yang datang ke rumah. Tradisi dikampungku memang luar biasa, apabila sanak Family meninggal, maka keluarga tersebut seperti sedang hajatan pernikahan ataupun khitanan. Makanan semuanya terhidang, mulai dari nasi beserta lauk pauknya, beberapa kue dan juga minuman pendampingnya, baik itu susu, kopi, ataupun teh manis, dan kadang juga tersedia indomie dan teman- temannya, begitu juga dengan tetangga yang datang ke rumah, ada  yang tugasnya memasak, beres- beres rumah, atau pun yang datang hanya diam memperhatikan yang lainnya, yang penting ikut bergabung dengan masyarakat sekampung sepersaudaraan. Begitu juga dengan laki- laki, tidak kalah penting dari ibu- ibu yang datang ketempat tersebut, ada yang mengangkut air dari kali, ada  juga yang  mencari kayu bakar dari beberapa kebun masyarakat, dan ada juga yang datang hanya sekedar minum kopi dan mengisap rokok.
“Mandi dulu”, kata ibu menyuruhku untuk membersihkan diri ketika tanganku hendak mengambil ikan yang ada diatas piring.
“Aduh harus mandi lagi, aku kan gak bisa mandi dan bersih- bersih Cuma lima menit” gerutuku dalam hati. Mau tidak mau aku segera bergerak ke kamar mandi, saat sepuluh menit di kamar mandi, “tok tok tok, buru gak pake lelet”, itu suara kaka pertamaku yang kurasa,dia pun saat itu belum mandi. Aku hanya menjawab, “iya bentar lima menit lagi”.
Setelah ganti pakaian dengan gamis pemberian dari Abah saat pulang dari Makkah, Kulihat masyarakat yang hadir didepan rumah, “kok rata- rata asing yah orang- orang yang mau nyolatin Abah”, hati kecilku berkata.
“Mereka siapa sih, temannya kaka atau murid- muridnya Abah yang tinggal diluar kampung halaman, atau mereka sanak family yang gak kukenal” tanyaku pada diri sendiri.
“Allahu Akbar”
“Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu”
Saat selesai menyolatkan, kulihat kembali ruangan dimana Abah diletakan untuk disolatkan.
“What, sholat ronde kedua?, gimana gimana maksudnya” tanyaku pada sepupu yang berdiri disebelah kiriku.
“Ia sholat ronde kedua, ronde pertama masyarakat mukim, ronde kedua masyarakat pendatang, atau masyarakat dari luar kampung kita, dan ronde ketiga ialah paman yang baru datang dari jakarta” katanya menjelaskan padaku.
“Emang apa sih Hukumnya mensholatkan mayat” tanyaku dalam hati saat melihat pamanku yang baru datang segera mensholatkan Abah walaupun hanya berdua.
“Yasin”
“Wal Qur’anil hakim”
Suaraku bergetar saat terakhir kalinya mengajikan mayat Abah yang bentar lagi diantarkan ke liang lahat.  Namun, sebelum dikuburkan, ada tradisi yang tidak akan kulupakan, bagiku ini adalah tradisi, tapi tidak tau sebenarnya apakah ini tradisi atau hukum mengurusi mayat yang sebelumnya belum kuketahui.
“Mana teh diah” tanya kaka pertamaku mencari istrinya.
Setelah istrinya datang, ia membisikan sesuatu ditelinganya. Saat itu juga kaka iparku yang pertama melepaskan perhiasan yang semula ia pakai, mulai dari perhiasan yang dipakai di leher, di telinga, di jari jemarinya, dan juga dipergelangan tangannya.
“Untuk apa?” tanyaku dalam hati seraya terus memerhatikan apa yang dilakukan kakaku dan istrinya. Kulihat setumpuk Emas tersebut dimasukan kedalam wadah yang sedang, lalu ditutup oleh kain hitam. Setelah itu, wadah tersebut berkeliling dari satu orang ke orang sebelahnya sampai berakhir ke orang dipenghujung lingkaran.
“Apakah jenazah Abah H.Sajim bin jasiman pernah mempunyai salah”
“Tidak”
“Apakah jenazah Abah H.Sajim bin jasiman layak untuk dikebumikan”
“Layak”
Begitu seterusnya saat wadah tersebut berputar sampai kepada orang terakhir  yang hadir di rumah.

Foto : jenazah Abah saat hendak dikebumikan

Saat Menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut, kita harus mentalkinkannya, lalu segera memandikan mayatnya, tidak lupa untuk ikut mengkafani, lalu mensolatkan jenazahnya, dan terakhir mengantarkannya sampai ke liang lahat, itu  semua merupakan kewajiban seorang mu’min saat orang disekitarnya meninggal dunia. Itulah satu kalimat ilmu yang aku baca diperpustakaan PAI UIN SMH Banten seminggu setelah kepergian Abah.
“Lailaha illah”
“Lailaha illah”
Satu langkah demi satu langkah akhirnya jenazah Abah diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya, kulihat sekitar liang kubur yang telah disediakan untuk abah penuh oleh masyarakat mukim maupun pendatang. Baik itu bapak- bapak, ibu- ibu, tua muda, bahkan anak kecil pun ikut serta ketempat dimana Abah akan dikuburkan.
“Dede sini, jangan dekat- dekat”, aku menarik keponakanku yang pertama, namanya Akhmad Zainal Afifin, dia berusia sepuluh tahun dan sekarang sedang duduk dibangku kelas 6 sekolah dasar. Saat itu kenapa aku menariknya, karena aku teringat cerita ibu dan Abah saat nenek dari Abah hendak dikebumikan, “Ati (kaka pertamaku) pingsan karena tidak kuat melihat Ambu dimasukan ke dalam tanah”. Selain menariknya, aku pun menutupi kedua matanya, ia hanya diam  dan terus diam. Namun segera kulepaskan kedua tanganku dari penglihatan matanya saat kulihat ia, “kayaknya dia mah kuat deh”, kataku menyakinkan diri sendiri.  
“Tri turun adzan” kudengar suara paman memerintahkan  kakaku yang pertama untuk mengadzankan Abah. Ia hanya diam, lalu menyuruh kaka keduaku untuk Adzan.
“fidz Adzan”
Hafidz kaka keduaku segera turun ke liang lahat dan segera mengadzankan dan membacakannya iqomat. Saat iqomat terakhir, suaranya terdengar getir, aku yakin suara itu suara menahan tangis. Kulihat ekspresi wajahnya, namun tidak mampu kulihat, karena mataku pun penuh dengan air mata. “mana ibu” tanyaku mencari sekeliling. Kulihat ibu berada dibelakang rumah sedang berdiri seorang diri, ibu tidak melihat langsung jasad Abah saat dikebumikan secara dekat, mungkin takut tidak kuat melihat ekspetasi yang sesungguhnya, yaitu melihat teman hidupnya dari usia 13 tahun sampai sekarang usia ibu 55 tahun diantarkan kedalam kubur. 
Setumpuk demi setumpuk tanah menutup jasad Abah, dari sinilah tangisku pecah, “maaf bah bukan berarti aku tidak sayang Abah”,kataku dalam hati,  saat menangis sebenarnya aku teringat pesan orang – orang yang lebih tua dariku, mereka berkata, “jangan menangisi kepergian orang tua yang meninggal”. Namun bagaimana lagi, aku benar- benar tidak kuat lagi menahan tangis yang sudah kutahan sejak Abah menghembuskan nafas terakhir kalinya.  Pamanku yang menyadari kehadiranku segera membopongku ke rumah, kebetulan makam Abah berada di belakang rumah bersama kedua makam orang tua kandungnya. 
“Langsung mulai aja giliran ngajinya, jadwal siapa sekarang yang ngaji” kaka pertamaku mengomandokan orang- orang yang disuruhnya untuk mengaji dimakam Abah selam tujuh hari tujuh malam. Dimakam tersebut dipasang lampu dan juga tenda untuk berlangsungnya mengaji. Setiap orang memiliki jatah mengaji setiap harinya dua jam, jadi selama seminggu kaka pertamaku menyewa santri, atau laki- laki yang dirasa bagus tilawah qurannya sekitar 12 orang. Disekitar kuburan Abah tersedia Air minum dan juga terlihat bekas bakar- bakar ikan disetirannya.
“Gak merasa takut malam- malam juga dikuburan Abah haji mah”suara salah seorang tetanggaku yang mendapatkan giliran ngaji dimalam hari terdengar olehku.
“Syukurlah” kataku lega.
Kemudian aku beranjak dari ruang depan menuju ke ruang tengah,  Kulihat Ibu yang selalu percaya dengan kata PAMALI memarahi kaka keduaku dan juga istrinya, saat itu waktu mahgrib sebentar lagi hanya sekitar lima menitan, istri kaka keduaku hendak memandikan anaknya, Humaira Zeina Salsabila, yang baru berusia satu tahunan.
“Mau ngapain Fidz, jangan mandi maghrib- maghrib, Abah gak suka lihat orang yang mandi waktu maghrib”. 
Kakaku dan juga istrinya tidak menghiraukan suara ibu, baginya dan bagiku juga kata pamali itu sesuatu yang dipakai oleh orang tua jaman dahulu, mana ada anak muda jaman sekarang percaya kata pamali, apalagi disangkut pautkan dengan orang yang sudah meninggal, “hanya mitos belaka”.
Senja berganti menjadi malam hari , dan malam ini merupakan malam pertama Tahlilan yang diselenggaran setelah kematian Abah. Semua masyarakat setempat datang berduyun – duyun kerumahku tanpa harus ada aba- aba terlebih dahulu. Karena setiap ada masyarakat yang meninggal, tahlilan merupakan hal yang biasa dilaksanakan di kampung kelahiranku ini. 
“Kenapa Teh Inna?” tanya ibu pada kaka iparku yang kedua.
“Gak tau ini biasanya gak pernah nangis kaya gini” jawabnya seraya menggendong Zeina Anaknya.
Teh diah kaka ipar pertamaku setelah melihat Zeina menangis segera mengambil gelas dan juga mengisinya dengan air mineral, kemudian ia membisikan sesuatu pada suaminya, kaka pertamaku.  Kaka pertamaku segera duduk dipojokan kamar dan menghadap kiblat, “hmmm... pengganti Abah”, ucapku dalam hati. Biasanya, setiap tetangga atau keluarga yang sakit karena PAMALI tersebut, atau karena apalah itu,  abahlah yang memberikan minum yang telah dibacakan doa- doa. Yang pasti doa- doa yang dibacakan tersebut bukan seperti mantra pada umumnya atau yang digunakan dukun saat pengobatan. 
“Makanya denger dikit apa  kata- kata ibu tuh” omelku pada Hafidz  setelah tangis Zeina reda. Ia hanya diam tidak menghiraukan ucapanku sedikitpun. Memang, aku dan Hafidz kakaku itu kadang sedikit tidak percaya apa yang di PAMALI kan oleh ibu dan sesuatu yang dipercayai olehnya, seperti contoh kecilnya ialah saat aku dan kaka- kakaku hendak ke pesantren, ibuku selalu menyuruh, “sana ke kuburan Abah juman( kakek dari ibu), bilang mau berangkat lagi gitu ke pesantren, minta doanya sana”. Aku yang memiliki persepsi berbeda dengan ibu, bahwa menurutku meminta do’a ke kuburan merupakan hal yang dilarang oleh Allah, saat itu aku segera berangkat ke kuburan kakek ataupun nenek, setelah dikuburan, aku hanya membacakan bacaan ziarah kubur pada umumnya tanpa meminta do’a atau pun meminta izin pada kakek nenek yang telah meninggal.
“Udah minta do’anya?”
“Udah bu tadi” jawabku bohong pada ibu. Pembohongan tersebut biasa kulakukan saat ibu menyuruhku untuk pergi ke kuburan, “gak apa- apa lah dari pada harus debat kusir dengan ibu” pikirku dalam hati. Hal yang biasa kulakukan tersebut sama Seperti saat ini, yaitu hari ke delapan setelah kepergian Abah, hari ini hari minggu, yang berarti aku sudah seminggu Absen di kampus dan harus kembali lagi ke serang.
“Ia tadi udah bu” kataku bohong lagi padanya. Saat ini Ibu menyuruhku meminta izin untuk berangkat lagi ke serang pada kuburan Abah dan menyuruhnya meminta do’a. Setelah pulang dari kuburan Abah, segera kubergegas untuk pergi ke tempat dimana Bus berada dengan diantar oleh paman dari ibu. Sebelum menaiki motor yang dikendarai oleh paman, disinilah puncak kesedihanku benar- benar terasa. 
“Udah gak ada abah” lirihku dalam hati.  Biasanya, saat hendak berangkat ke pesantren selama setahun terakhir ini, aku selalu pamit pada abah yang sedang berbaring dan menangisi kepergianku ke pesantren, kulihat ruang tengah, tidak ada siapa- siapa disana, hanya ada kasur kosong yang biasa abah gunakan selama setahun dalam sakitnya. 
“Huh” nafasku berhembus pelan. kulihat ibu yang duduk dibangku teras, segera aku pamit padanya dan tidak lupa meminta do’a untuk kesuksesanku dalam memuntut ilmu dan juga keberkahan hidup seperti keberkahan yang diharapkan oleh semua orang. 
“Yang bener kuliahnya ya, jangan main- main ya sekarang mah kuliahnya, sekarang kan udah gak ada Abah” pesan ibu padaku saat aku mencium telapak tangannya. Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan nasihat ibu, segera kubergegas menaiki motor dan meluncur ke jalan raya.
Jalanan siang hari sepi, tidak seperti biasanya kemacetan yang kutemukan disepanjang perjalanan sobang, pandeglang-  terminal pakupatan. 
“Alhamdulilah ya sesuatu”, hatiku lega saat merasakan bebas dari macetnya jalan raya yang faktor utamanya ialah karena pembangunan jalan. “Hmmmm kematian” gumamku kemudian. Semua janin belum tentu dilahirkan olehnya, namun semua manusia pasti dikembalikan padanya. Siapa manusia yang tidak akan meraskan kematian, dokter yang menangani pasien pun akan merasakan sakitnya sakaratul maut, apalagi aku yang hanya seorang Mahasiswa dengan nilai pelajaran sains  saat SMP dulu bisa dikategorikan dibawah rata- rata. Renungan hati saat diperjalanan dari rumah ke serang sama halnya dengan renungan yang kurasakan saat ini, saat ini malam hari semakin larut hingga aku lupa akan esok pagi jadwal setoran menunggu, “kayaknya absen lagi deh besok pagi setorannya” keluhku kesal pada diri sendiri, insomnia terkadang memang menemaniku untuk terus berlatih menulis dan juga memperkaya imajinasi yang keluar dari diri sendiri, namun insomnia pun bisa juga menggangguku untuk bangun pagi dan juga kegiatan setelah subuh yang ada di pondok yang saat ini kutempati. 
Foto : kuburan Abah 

Terima kasih untuk semua orang yang telah membaca kisahku ini,  yang mungkin kisah ini tidak bisa kuceritakan secara langsung pada siapapun  itu, baik sahabat, teman, guru, saudara, keluarga, atau mungkin pacar (hehehe kayak punya pacar aja ya),  tapi tulisan ini serius hanya bisa kutuliskan di papan blog yang sangat sederhana ini. Sekali lagi terima kasih semua...........

salam hangat  dari aku, penulis amatiran
see you next time.

Foto : jadwal ngaji selama 7 hari 7 malam.


Baca juga ya tentang musibah yang menyebabkan Abah sakit selama setahun
        https://rohaasajim.blogspot.com/2019/03/saat-musibah-datang.html




Selasa, 30 Juli 2019

Jangan Suudzon dengan skenario Allah




Malam yang pekat, sepekat hati yang tidak karuan dengan suasana yang ada. Ingin pulang ke kampung halaman kadang tidak melihat kondisi yang tertera.

"Ngapain Pulang" pertanyaan itu membuatku kesal dengan ibu dibalik pesan suara. Aku pun menyudahi percakapan dengannya dan segera menarik selimut kembali yang dari malam sudah kupakai untuk menyelimuti dinginnya udara.

"Ya sudah lah aku tidak akan pulang kerumah" kata hatiku seraya menahan sesaknya dada.

Pulang kerumah, biasa kulakukan enam bulan sekali semenjak aku duduk di kelas 1 SMP. Jauh dari orang tua sudah biasa kuhadapi semenjak aku masuk ke Pesantren. Ingin pulang, tapi liburannya hanya beberapa hari saja, atau saat ingin pulang, jarak pesantren dan rumah yang sangat jauh, sehingga aku tidak bisa pulang jika hanya seminggu liburannya.

"Lah sekarang, libur Satu bulan lebih ditambah lagi perantauanku dengan rumah tidak sejauh dulu saat aku duduk di bangku SMA" pikirku dalam hati sembari mengusap air mata yang tidak sengaja menetes dari kelopak mata.

"Ibu memang tidak pernah mau aku bahagia" getarku dalam hati. Kutatap dalam- dalam kaca jendela yang mengarah pada jalan raya. Suara mobil menderung dibalik tembok tidak membuatku harus berhenti meratapi kekesalanku pada ibu.

"Harus apa aku sekarang,? Teman Lamaku sibuk kkn, teman baru entah sibuk apa mereka, aku tidak bisa duduk diam di dalam pesantren" gerutuku dalam hati. Kuhapus air mata dan kucoba untuk terlihat baik- baik saja saat datang tetangga asrama.

"Ia nanti aku berangkat ke masjid" kataku tersenyum padanya. Senyum paksa, semoga dia tidak menyadari kekacauanku hari ini.

"Di masjid akan ada ka Angga" ungkap salah satu seniorku saat lewat di depanku yang sedang mengunyah jambu. "Huh, apa spesialnya kak Angga" gerutuku setelah melihat orang- orang berangkat ke masjid dengan segera.

"Iya nanti ke masjid" ucapku saat semua orang mengajakku pergi ke masjid yang kedua kalinya.

Segera kuambil gamis Pink Fanta dan Himar Pink muda, "nasib gini amat ya" keluhku.

"Kapan aku bebas dari pesantren ya Allah" lirihku saat sedang mengaca. Kuingat dengan jelas, bayang- bayang  semua temanku yang mudah kemanapun perginya. Travelling, muncak, reuni pesantren, kongkow- kongkow dengan teman sejolinya, atau pun ikut demo dengan aktifis kampusnya. "Lah aku, di pesantren, dan dipesantren lagi", kapan majunya, batinku semakin memuncak.

Kulangkahkan kaki untuk menuju mushola pesantren. "Paling gitu- gitu aja Motivasinya", kataku pada diri sendiri saat hendak membuka pintu mushola.

Kreeeeeek....

Semuanya melihat ke arahku. Segera kuambil posisi untuk duduk dibarisan belakang. "Kok aku ragu ya untuk pulang", kata hati kecilku setelah melihat semangat santri- santri yang ada, mereka santri lama dan ada juga sebagian santri baru sepertiku, namun dari mereka semua hanya kukenal sekilas, tidak lebih dari itu. Saat bertemu dijalan, di masjid, di mushola, di warung atau pun di kampus, aku dan mereka hanya menyapa sewajarnya, setelah itu sibuk dengan aktifitas masing- masing.

"Jadi males pulang ih, mending ngaji aja di sini", bisik hati kecilku. Kuperhatikan apa pun yang ka Angga ucapkan, sehingga aku terbius dengan kata- kata ka Angga yang kudengar dengan kedua telingaku.

"Jangan pernah Suudzon dengan skenario Allah", tiba- tiba kalimat tersebut kudengar kembali, kalimat itu seperti tamparan besar untukku.

"Apa kaitannya", tanyaku dalam hati. Kuperhatukan satu persatu kalimat yang ka Angga ucapkan untuk kuserap di dalam memoriku, saat itu pun pikiranku  berubah 180°, dari pertamanya ingin pulang, menjadi ingin menetap di Pesantren, walau pun kampus sedang libur panjang. "Pulang gak ya besok", tanyaku pada diri sendiri.

Ka Angga merupakan Motivator PPA for  Teen (Kalau tidak salah sih gitu, hehee maafkan), yang pasti ka Angga itu sudah terkenal di seluruh pelosok indonesia. Dari sabang hingga merauke, yang pernah mengenal PPA sudah pasti tau siapa ka Angga itu, salam takjub kak.

Malam ini Allah Mengantarkan Ka Angga ke pesantrenku untuk memberikan wejangan semangat seluruh santri yang ada. bahkan, ada juga tetangga Pesantren ( Anak Komplek) yang ikut hadir di dalam majlis. Ka Angga berkata, " Manusia terkadang sangat membenci dengan sesuatu yang menghalanginya untuk mencapai suatu tujuan atau keinginannya itu. Bahkan, sampai ada yang beranggapan, "Allah tidak adil, kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa tidak begini, dan kenapa tidak begitu", itulah manusia.

Malam pun semakin larut, setelah aku mendengar penuturan dari ka Angga, aku berpikir, " lalu apa hikmah dibalik satir yang menghalangiku dan rumah", tanyaku pada diri sendiri.

"Mungkin Inilah jawabannya, kamu bisa bertemu dengan ka Angga ha", jawabku  pada diri sendiri.

"Lalu apa lagi selain itu ha?", tanyaku lagi pada diri sendiri sembari menyelidiki rahasia hidup yang terkadang membuatku harus kesal dengan keadaan yang tidak kuharapkan, namun hadir di hidupku.

"Kamu bisa merasakan betapa Hebatnya menjadi santri, betapa berharganya menjadi pelajar Ilmu Akhirat, dan betapa gentarnya kamu setelah melihat semangat santri- santri yang ada di dalam majlis Kala itu",Jawabku kembali pada sendiri.

Merenung sendiri memang seperti berbicara sendiri, dan menjawab pun sendiri. Itu aku, entahlah orang lain, sama atau tidak dengan caraku merenung dan memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan kejadian unik di kehidupanku sekarang, masa lalu, atau pun masa depan.

Setelah aku pulang dari majlis, waktu menunjukan ke angka 22.00 WIB. Aku segera masuk ke dalam kamar pesantrenku dan segera mengambil Hand Phone yang ada di tumpukan Novel- novel milik temanku. "Enakan disini sepertinya, khusu ngafal, dan juga belajar kitab. Kapan lagi aku bisa setoran pagi dan sore hari, kalau sedang tidak kuliah", gumamku dalam hati.

Malam itu aku gelisah, kulihat layar Hand Phone, ada pesan masuk dari kampung halaman. Segera kubuka dan tertera didalamnya:

"Teh mun hayang uih, uih bae. Terus berangkatna ulang beurang, isuk isuk, bisi ka sorean. Ceuk ibu geh itung itung jaga abah", kututup kembali layar Hand Phone setelah membaca pesan singkat tersebut.

"Jadi bingung, pulang atau ngafal".

"Lihat entar aja lah besok pagi".
           
                                        ****

Ke esokan paginya

"Ha disuruh ke Rumah Ustadz sama pamanmu tuh".

"Gak salah dengar apa ya", jawabku seraya membenarkan kasur lepek yang telah kugunakan tadi malam.

"Gak bercanda kan kamu say", tanyaku menyakinkan erna.

"Serius, tadi nyariin kamu di masjid", ungkapnya.

"Kamu kan mau pulang, siapa tau ngajak bareng pulangnya ha", ucap Nenden kepadaku.

"Gak mungkin", suaraku terdengar hingga lantai dua pesantren saking kerasnya.

Kuseret sendal Swallow merah yang sudah satu tahun menemaniku di pesantren ini.

"Mending ngafal, eh tapi gak apa- apa kalau mau jagain abahmah pulang juga", suara Paman melegakan gugupku saat ditanya oleh ustadz.

"Bener gak sih Aku dipanggil ke rumah Ustadz" tanyaku dalam hati. Kulihat Reaksi Paman tidak menandakan bahwa aku di panggil olenya. Tanpa waktu lama,  Segera kucoba untuk pamit diri. Namun, saat aku hendak beranjak,"ikut dulu yuk ke rumah sebentar, ada titipan dari Wali murid TPA".


                                            ****

"Gak mungkin Hikmah dibalik aku terlambat pulang ke rumah hanya ini", gumamku seraya melihat pada dua buah tas yang telah kuterima dari paman, "lalu apa ya?".

Di perjalanan Taman Permata Safira - Citra Land Puri Serang, lalu Berlanjut perjalanan Serang - Pandeglang, kulupakan pencarian Hikmah dibalik keterlambatan aku untuk pulang ke rumah. Ka Angga berkata, jangan pernah mencela dengan sesuatu yang menghalangimu untuk mencapai mimpi- mimpi atau angan- angan yang kamu ciptakan, karena kamu tidak pernah tau, rahasia apa yang Allah akan berikan dibalik hambatan dan rintangan itu semua, kamu tidak akan pernah tau balasan yang akan Allah berikan siapa tau lebih besar dan lebih berharga dari semua yang kamu punya.

"Naik PS Serang - Panimbang, minta jemput di Panimbang, nyampe deh", gumamku berkali- kali saat di dalam angkot tujuan Ciracas - Pakupatan.


Pulang ke rumah, satu momen yang sangat kutunggu- tunggu sedari SMP, Aliyah, Ciputat, dan juga sekarang, Serang. "Kapan aku berhenti untuk pulang ke rumah", rasanya tidak akan pernah berhenti untuk pulang ke kampung halaman, dimana disana terdapat istana tempat aku dilahirkan, tempat hadirnya dua sosok malaikat hebat yang Allah hadirkan untuk melengkapi kisah kehidupan seorang Aku, dan tempat segala di atas segala.

Rumah, ya rumah. Dua minggu aku di rumah setelah menyelesaikan UAS Semeser ganjil Ba'da Idul Fitri. Dua minggu seperti dua hari, perputaran waktu sangat cepat berlalu sehingga tidak terasa waktu liburan pun selesai.

Bukan karena waktu liburannya selesai, karena sesungguhnya liburan panjang kuliah masih terdapat dua bulan lamanya. Namun, satu pesan di What appku yang mengharuskan aku kembali ke tempat dimana aku menuntut ilmu sekarang.

"Diwajibkan kepada seluruh santri yang masih di rumah untuk segera kembali ke pondok karena KBM telah berlangsung", kututup pesan dari grup What App setelah kuperhatikan pesan tersebut dengan jelas, "niat, niat, ke pondok, ke pondok", gumamku dalam hati untuk mencoba menenangkan diri.

Saat itu, ada juga beberapa pesan masuk khusus dari teman Pondokku yang masih di rumah. " teh dapat pesan khusus gak dari pengasuhan?" tanyanya di balik pesan What App. "Enggak, kenapa emang?", tanyaku balik bertanya. Mereka hanya menjawab, "gak apa apa".

Keesokan harinya, segera kukemas barang- barang yang hendak kubawa ke pondok agar terlihat rapih. Kali ini aku tidak membawa perlengkapan mandi dan juga snack untuk perbekalan di pondok. "Yang penting datang lah ke pondok", pikirku saat tahu bahwa kebanyakan teman sekamar denganku mendapatkan SP dari pembinaan.

"Lalu kenapa aku gak kena juga", tanyaku pada diri sendir.

"Kapasitas kemalasan dan kerajinan di pondok semuanya sama, pondok 6".

"Saat satu kabur, semuanya kabur, Pondok 6"

"Kenapa ya?"

"Kenapa ya? Aneh "

Sepanjang perjalanan Sobang - Serang, pikiranku hanya tertuju pada masalah yang ada di Pondok. Rata- rata teman se kamarku mendapatkan surat cinta dari pembinanan kenapa aku enggak.

"Mungkin karena aku datang ke pondok setelah lebaran, walau hanya seminggu", gumamku menyakinkan diri sendiri.

"Tapi yang lainnya juga sama datang setelah lebaran, dan pulang kembali setelah seminggu di Pondok", ungkap hati kecilku.

"Lalu karena apa ya?" Tanyaku sekali lagi dalam hati.

Hari berganti dihari, setelah mendapatkan sebulan di Pondok ba'da perpulangan kemaren aku baru sadar. "Mungkin ini Hikmah dibalik aku terlambat pulang ke rumah dibandingkan teman- temanku yang lainnya". Harus bertemu ka Angga terlebih dahulu untuk menguatkan pikiran yang sedang kacau, bertemu dengan Paman di Rumah Ustadz untuk menyakinkan bahwa aku pulang ke rumah bukan untuk hura- hura dan liburan saja. Dan juga pelajaran dari Allah bahwa aku harus sabar, tidak mudah putus asa dan juga harus kuat banting dengan keadaan yang terkadang aku enggan di dalamnya, Pesantren.

Thank's For you All......



Foto : Santriwati Pondok 6 - 2018




Tidak Sekedar Cerita

1 Muharam

 Apa yang kamu ketahui tentang 1 Muharam. Tahun baru Islam? Atau apa ? Makna 1 Muharam bagi semua umat Islam merupakan Tahun Baru Islam atau...